MATERI PERTOLONGAN PERTAMA
DASAR
PERTOLONGAN PERTAMA
A. Pertolongan Pertama
Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau korban kecelakaan
yang memerlukan penanganan medis dasar untuk mencegah cacat atau maut.
- Tujuan Pertolongan Pertama
a.
Menyelamatkan
jiwa penderita
b.
Mencegah
cacat
c.
Memberikan
rasa nyaman dan menunjang proses penyembuhan
- Sistem Pelayanan Gawat Darurat Terpadu
Dalam perkembangannya tindakan pertolongan pertama diharapkan menjadi
bagian dari suatu sistem yang dikenal dengan istilah Sistem Penanggulangan
Gawat Darurat Terpadu, yaitu sistem pelayanan kedaruratan bagi masyarakat yang
membutuhkan, khususnya di bidang kesehatan.
- Komponen Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu:
a.
Akses
dan Komunikasi
Masyarakat harus
mengetahui kemana mereka harus meminta bantuan, baik yang umum maupun yang
khusus.
b.
Pelayanan
Pra Rumah Sakit
Secara umum
semua orang boleh memberikan pertolongan.
Klasifikasi Penolong:
1)
Orang Awam
Tidak terlatih atau memiliki sedikit pengetahuan pertolongan pertama
2)
Penolong pertama
Kualifikasi ini
yang dicapai oleh KSR PMI
3)
Tenaga Khusus/Terlatih
Tenaga yang dilatih secara khusus untuk menanggulangi kedaruratan di
Lapangan
4) Tansportasi
Mempersiapkan penderita untuk ditransportasi
- Dasar Hukum
Pasal 531 K U H Pidana
“Barang siapa menyaksikan
sendiri ada orang didalam keadaan bahaya maut, lalai memberikan atau mengadakan
pertolongan kepadanya sedang pertolongan itu dapat diberikannya atau
diadakannya dengan tidak akan menguatirkan, bahwa ia sendiri atau orang lain
akan kena bahaya dihukum kurungan selama-lamanya tiga bulan atau denda
sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-. Jika orang yang perlu ditolong itu mati, diancam
dengan : KUHP 45, 165, 187, 304 s, 478, 525, 566”
Di dalam undang-undang ditemukan beberapa pasal yang mengatur mengenai Pertolongan
Pertama, namun belum dikuatkan dengan peraturan lain untuk melengkapinya.
Beberapa pasal yang berhubungan dengan Pertolongan Pertama antara lain :
- Persetujuan Pertolongan
Saat memberikan pertolongan sangat penting untuk meminta izin kepada korban
terlebih dahulu atau kepada keluarga, orang disekitar bila korban tidak sadar.
Ada 2 macam izin yang dikenal dalam pertolongan pertama :
a.
Persetujuan
yang dianggap diberikan atau tersirat (Implied Consent)
Persetujuan yang diberikan pendarita sadar dengan cara memberikan isyarat,
atau penderita tidak sadar, atau pada anak kecil yang tidak mampu atau dianggap
tidak mampu memberikan persetujuan
b.
Pesetujuan
yang dinyatakan (Expressed
Consent)
Persetujuan yang dinyatakan secara lisan maupun tulisan oleh penderita.
- Alat Perlindungan Diri
Keamanan penolong merupakan hal yang sangat penting, sebaiknya dilengkapi
dengan peralatan yang dikenal sebagai Alat Perlindungan Diri antara lain :
a. Sarung tangan lateks
Pada dasarnya semua cairan tubuh dianggap dapat menularkan penyakit.
b. Kaca mata pelindung
Mata juga
termasuk pintu gerbang masuknya penyakit kedalam tubuh manusia
c.
Baju
pelindung
Mengamankan tubuh penolong dari merembesnya carian tubuh melalui pakaian.
d.
Masker
penolong
Mencegah penularan penyakit melalui udara
e. Masker Resusitasi Jantung Paru
Masker yang dipergunakan untuk memberikan bantuan napas
f.
Helm

Mencegah benturan di kepala ketika melakukan pertolongan.
“Semua carian tubuh dianggap menular”
Untuk mencegah penularan penyakit melalui cairan tubuh:
a.
Mencuci
Tangan
b.
Membersihkan
peralatan
v Mencuci
Membersihkan perlatan dengan sabun dan air
v Desinfeksi
Menggunakan bahan kimia seperti alkohol untuk membunuh bakteri patogen
v Sterilisasi
Proses menggunakan bahan kimia atau pemanasan untuk membunuh semua
mikroorganisme.
c.
Menggunakan
APD
Seiring
risiko adanya benturan pada kepala meningkat. Helm dapat mencegah terjadinya
cedera pada kepala saat melakukan pertolongan.
- Kewajiban Pelaku Pertolongan Pertama
Dalam
menjalankan tugasnya ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :
a.
Menjaga
keselamatan diri, anggota tim, penderita dan orang sekitarnya.
b.
Dapat
menjangkau penderita.
c.
Dapat
mengenali dan mengatasi masalah yang mengancam nyawa.
d.
Meminta
bantuan/rujukan.
e.
Memberikan
pertolongan dengan cepat dan tepat berdasarkan keadaan korban
f.
Membantu
pelaku pertolongan pertama lainnya.
g.
Ikut
menjaga kerahasiaan medis penderita.
h.
Melakukan
komunikasi dengan petugas lain yang terlibat.
i.
Mempersiapkan
penderita untuk ditransportasi.
- Kualifikasi Pelaku Pertolongan Pertama
Agar dapat menjalankan tugas seorang petugas penolong harus memiliki
kualifikasi sebagai berikut :
a.
Jujur
dan bertanggungjawab.
b.
Memiliki
sikap profesional.
c.
Kematangan
emosi.
d.
Kemampuan
bersosialisasi.
e.
Kemampuannya
nyata terukur sesuai sertifikasi PMI. Secara berkesinambungan mengikuti kursus
penyegaran.
f.
Selalu
dalam keadaan siap, khususnya secara fisik
g.
Mempunyai
rasa bangga.
- Fungsi Alat dan Bahan Dasar
Dalam menjalankan tugasnya ada beberapa peralatan
dasar yang sebaiknya tersedia dan mampu digunakan oleh penolong di antaranya :
a.
Alat
dan bahan memeriksa korban
b.
Alat
dan bahan perawatan luka
c.
Alat
dan bahan perawatan patah tulang
d.
Alat
untuk memindahkan penderita
e. Alat lain yang dianggap perlu sesuai
dengan kemampuan
B. ANATOMI
1.
Pengertian – pengertian
Anatomi (susunan Tubuh)
Anatomi adalah ilmu yang mempelajari susunan tubuh dan bentuk tubuh
Fisiologi (faal tubuh)
Ilmu yang mempelajari faal (fungsi) bagian dari alat atau jaringan tubuh.
2.
Posisi Anatomis
Tubuh manusia diproyeksikan menjadi suatu posisi yang dikenal sebagai
posisi anatomis, yaitu berdiri tegak, ke dua lengan di samping tubuh, telapak
tangan menghadap ke depan. Kanan dan kiri mengacu pada kanan dan kiri
penderita.
Gambar bisa
dilihat pada buku Pertolongan Pertama edisi ke II, terbitan Markas Pusat PMI
3.
Bidang Anatomis
Dalam posisi seperti ini tubuh manusia dibagi menjadi beberapa bagian oleh
3 buah bidang khayal:
a.
Bidang Medial;
yang membagi tubuh menjadi kiri dan kanan
b.
Bidang Frontal;
yang membagi tubuh menjadi depan (anterior) dan bawah (posterior)
c.
Bidang Transversal; yang membagi tubuh menjadi atas (superior) dan bawah (inferior)
Istilah lain yang juga dipergunakan adalah untuk menentukan suatu titik
lebih dekat ke titik referensi (proximal) dan lebih jauh ke titik
referensi (distal).
4.
Pembagian tubuh manusia
Tubuh manusia dikelilingi oleh kulit dan diperkuat oleh rangka. Secara
garis besar, tubuh manusia dibagi menjadi :
a.
Kepala
Tengkorak, wajah, dan rahang bawah
b.
Leher
c.
Batang tubuh
Dada, perut, punggung, dan panggul
d.
Anggota gerak atas
Sendi bahu, lengan atas, lengan bawah, siku,
pergelangan tangan, tangan.
e.
Anggota gerak bawah
Sendi panggul, tungkai atas, lutut, tungkai bawah,
pergelangan kaki, kaki.
5.
Rongga dalam tubuh manusia
Selain pembagian tubuh maka juga perlu dikenali 5 buah rongga yang terdapat
di dalam tubuh yaitu :
a. Rongga tengkorak
Berisi otak dan bagian-bagiannya
b. Rongga tulang belakang
Berisi bumbung saraf atau “spinal cord”
c. Rongga dada
Berisi jantung dan paru
d. Rongga perut (abdomen)
Berisi berbagai berbagai organ pencernaan
Untuk mempermudah perut manusia dibagi menjadi 4 bagian yang dikenal
sebagai kwadran sebagai berikut:
1)
Kwadran
kanan atas (hati, kandung empedu, pankreas dan usus)
2)
Kwadran
kiri atas (organ lambung, limpa dan usus)
3)
Kwadran
kanan bawah (terutama organ usus termasuk usus buntu)
4)
Kwadran
kiri bawah (terutama usus).
e. Rongga panggul
Berisi kandung kemih, sebagian usus besar, dan organ reproduksi dalam
6.
Sistem dalam tubuh manusia
Agar dapat
hidup tubuh manusia memiliki beberapa sistem:
a.
Sistem Rangka (kerangka/skeleton)
1)
Menopang
bagian tubuh
2)
Melindungi
organ tubuh
3)
Tempat
melekat otot dan pergerakan tubuh
4)
Memberi
bentuk bangunan tubuh
b.
Sistem Otot (muskularis)
Memungkinkan
tubuh dapat bergerak
c.
Sistem pernapasan (respirasi)
Pernapasan bertanggung jawab untuk memasukkan oskigen dari udara
bebas ke dalam darah dan mengeluarkan karbondioksida dari tubuh.
d.
Sistem peredaran darah (sirkulasi)
Sistem ini berfungsi untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh.
e.
Sistem saraf
(nervus)
Mengatur hampir semua fungsi tubuh manusia. Mulai dari yang disadari sampai
yang tidak disadari
f.
Sistem pencernaan (digestif)
Berfungsi untuk mencernakan makanan yang masuk dalam tubuh sehingga siap
masuk ke dalam darah dan siap untuk dipakai oleh tubuh
g.
Sistem Klenjar Buntu (endokrin)
h.
Sistem Kemih
(urinarius)
a.
Kulit
b.
Panca
Indera
c.
Sistem
Reproduksi
C. PENILAIAN
Saat
menemukan penderita ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk menentukan
tindakan selanjutnya, baik itu untuk mengatasi situasi maupun untuk mengatasi
korbannya.
1.
Langkah – langkah penilaian pada penderita
a. Penilaian Keadaan
b. Penilaian Dini
c. Pemeriksaan Fisik
d. Riwayat Penderita
e. Pemeriksaan Berkala atau Lanjut
f. Serah terima dan pelaporan
2.
Penilaian keadaan
Penilaian keadaan dilakukan untuk memastikan
situasi yang dihadapi dalam suatu upaya pertolongan. Sebagai penolong kita
harus memastikan apa yang sebenarnya kita hadapai, apakah ada bahaya susulan
atau hal yang dapat membahayakan seorang penolong. Ingatlah selalu bahwa
seorang atau lebih sudah menjadi korban, jangan ditambah lagi dengan penolong
yang menjadi korban. Keselamatan penolong adalah nomor satu.
3.
Keamanan lokasi
Pelaku pertolongan pertama saat mencapai lokasi
kejadian, haruslah tanggap dan dengan serta merta melakukan penilaian keadaan
dengan mengajukan pertanyaan – pertanyaan seperti dibawah.
a.
Bagaimana
kondisi saat itu
b.
Kemungkinan
apa saja yang akan terjadi
c.
Bagaimana
mengatasinya
Setelah keadaan di atasi barulah kita mendekati dan menolong korban.
Adakalanya kedua ini berjalan bersamaan.
4.
Tindakan saat tiba di lokasi
Bila anda sudah memastikan bahwa keadaan aman maka tindakan selanjutnya
adalah :
a.
Memastikan
keselamatan penolong, penderita, dan orang-orang di sekitar lokasi kejadian.
b.
Penolong
harus memperkenalkan diri, bila memungkinkan:
i.
Nama
Penolong
ii.
Nama
Organisasi
iii.
Permintaan
izin untuk menolong dari penderita / orang
c.
Menentukan
keadaan umum kejadian (mekanisme cedera) dan mulai melakukan penilaian dini
dari penderita.
d.
Mengenali
dan mengatasi gangguan / cedera yang mengancam nyawa.
e.
Stabilkan
penderita dan teruskan pemantauan.
f.
Minta
bantuan.
5. Sumber Informasi
Informasi
tambahan mengenai kasus yang kita hadapi dapat diperoleh dari :
a.
Kejadian
itu sendiri.
b.
Penderita
(bila sadar).
c.
Keluarga
atau saksi.
d.
Mekanisme
kejadian.
e.
Perubahan
bentuk yang nyata atau cedera yang jelas.
f.
Gejala
atau tanda khas suatu cedera atau penyakit.
6. Penilaian Dini
Penolong harus mampu segera mampu untuk mengenali dan mengatasi keadaan
yang mengancam nyawa korban.
a.
Langkah-langkah penilaian dini
1)
Kesan umum
Seiring mendekati penderita, penolong harus mementukan apakah situasi
penderita tergolong kasus trauma atau kasus medis.
Kasus Trauma –
Mempunyai tanda – tanda yang jelas terlihat atau teraba.
Kasus Medis –
Tanpa tanda – tanda yang terlihat atau teraba
2)
Periksa Respon
Cara sederhana
untuk mendapatkan gambaran gangguan yang berkaitan dengan otak
penderitaTerdapat 4 tingkat Respons penderita
A = Awas
Penderita sadar
dan mengenali keberadaan dan lingkungannya.
S = Suara
Penderita hanya menjawab/bereaksi bila dipanggil atau mendengar suara.
N = Nyeri
Penderita hanya bereaksi terhadap rangsang nyeri yang diberikan oleh
penolong, misalnya dicubit, tekanan pada tulang dada.
T = Tidak respon
Penderita tidak bereaksi terhadap rangsang apapun yang diberikan oleh
penolong. Tidak membuka mata, tidak bereaksi terhadap suara atau sama sekali
tidak bereaksi pada rangsang nyeri.
3)
Memastikan jalan napas terbuka dengan baik (Airway).
Jalan napas merupakan pintu gerbang masuknya oksigen ke dalam tubuh
manusia. Apapaun usaha yang dilakukan, namun bila jalan napas tertutup semuanya
akan gagal.
a)
Pasien dengan respon
Cara sederhana untuk menilai adalah dengan memperhatikan peserta saat
berbicara. Adanya gangguan jalan napas biasanya akan berakibat pada gangguan
bicara.
b)
Pasien yang tidak respon
Pada penderita yang tidak respon, penolonglah yang harus mengambil
inisiatif untuk membuka jalan napas. Cara membuka jalan napas yang dianjurkan
adalah angkat dagu tekan dahi. Pastikan juga mulut korban
bersih, tidak ada sisa makanan atau benda lain yang mungkin menyumbat saluran
napas
4)
Menilai pernapasan (Breathing)
Periksa ada tidaknya napas dengan jalan lihat, dengar dan
rasakan, nilai selama 3 – 5 detik.
a)
Pernapasan
yang cukup baik
i. Dada naik dan turun secara penuh
ii. Bernapas mudah dan lancar
iii. Kualitas pernapasan normal
(<8 x/menit dewasa, <10 x/menit anak – anak, 20 x/menit bayi)
b) Pernapasan
yang kurang baik
i.
Dada
tidak naik atau turun secara penuh
ii.
Terdapat
kesulitan bernapas
iii.
Cyanosis
(warna biru/abu – abu pada kulit, bibir, atau kuku)
iv.
Kualitas
pernapasan tidak normal
5)
Menilai sirkulasi dan menghentikan perdarahan berat
Pastikan denyut jantung cukup baik Pastikan bahwa tidak ada perdarahan yang
dapat mengancam nyawa yang tidak terlihat. Pakaian tebal dapat mengumpulkan
darah dalam jumlah yang cukup banyak.
6)
Hubungi bantuan
Penilaian dini harus diselesaikan dan semua keadaan yang mengancam nyawa
sudah harus ditanggulangi sebelum melanjutkan pemeriksaan fisik.
Mintalah bantuan kepada
orang lain atau tenaga terlatih lain. Pesan yang disampaikan harus singkat,
jelas dan lengkap.
7)
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan rinci dan sistematis mulai dari
ujung kepala sampai ujung kaki.
Tiga metode pemeriksaan fisik:
a)
Penglihatan
(Inspection)
b)
Perabaan
(Palpation)
c)
Pendengaran
(Auscultation)
Jangan banyak membuang waktu untuk melakukan pemeriksaan secara rinci.
Lakukan secara cepat tetapi pastikan tidak ada yang terlewat. Pemeriksaan fisik
memastikan bahwa tidak ada yang terlewat.
Beberapa hal yang dapat dicari pada saat memeriksa
korban :
P erubahan
bentuk - (Deformities) bandingkan sisi sakit dengan yang sehat
L uka Terbuka -
(Open Ijuries) biasanya terlihat adanya darah
N yeri - (Tenderness) daerah yang
cedera lunak bila ditekan
B engkak - (Swelling) daerah yang
cedera mengalami pembengkakan
Beberapa tanda cedera mungkin dapat jelas terlihat, banyak yang tidak
terlihat dan menyimpan serius cedera potensial.
Dengarkan penderita. Dengan mendengarkan dapat
menunjukkan kepedulian dan memungkinkan mendapat informasi.
8)
Pemeriksaan fisik (Head to Toe)
Amati dan raba (menggunakan kedua tangan dan dengan tekanan), bandingkan
(simetry), cium bau yang tidak biasa dan dengarkan (suara napas atau derit
anggota tubuh), dalam urutan berikut:
a)
Kepala
Ø Kulit Kepala dan Tengkorak
Ø Telinga dan Hidung
Ø Pupil Mata
Ø Mulut
b)
Leher
c)
Dada
Ø Periksa perubahan bentuk, luka terbuka,
atau perubahan kekerasan
Ø Rasakan perubahan bentuk tulang rusuk
sampai ke tulang belakang
Ø Lakukan perabaan pada tulang
d)
Abdomen
Ø Periksa rigiditas (kekerasan)
Ø Periksa potensial luka dan infeksi
Ø Mungkin terjadi cedera tidak terlihat,
lakukan perabaan
Ø Periksa adanya pembengkakan
e)
Punggung
Ø Periksa perubahan bentuk pada tulang rusuk
Ø Periksa perubahan bentuk sepanjang tulang
belakang
f)
Pelvis
g)
Alat gerak atas
h)
Alat gerak bawah
9)
Pemeriksaan tanda vital
a)
Frekuensi nadi,
termasuk kualitas denyutnya, kuat atau lemah, teratur atau tidak
b)
Frekuensi napas,
juga apakah proses bernapas terjadi secara mudah, atau ada usaha bernapas,
adakah tanda-tanda sesak napas.
c)
Tekanan darah,
tidak dilakukan pemeriksaan oleh KSR dasar
d)
Suhu, diperiksa
suhu relatif pada dahi penderita. Periksa juga kondisi kulit: kering, berkeringat,
kemerahan, perubahan warna dan lainnya.
Denyut Nadi Normal :
Bayi : 120 – 150 x/menit
Anak : 80 – 150 x/menit
Dewasa : 60 – 90 x/menit
Frekuensi Pernapasan Normal:
Bayi : 25 – 50 x/ menit
Anak : 15 – 30 x/ menit
Dewasa : 12 – 20 x/ menit
10)
Riwayat Penderita
Selain melakukan pemeriksaan, jika memungkinkan dilakukan wawancara untuk
mendapatkan data tambahan. Wawancara sangat penting jika menemukan korban
dengan penyakit.
Mengingat wawancara yang dilakukan dapat berkembang sangat luas, untuk
membantu digunakan akronim : KOMPAK
K = Keluhan Utama (gejala dan tanda)sesuatu yang sangat
dikeluhkan penderita
O = Obat-obatan yang diminum.Pengobatan yang sedang dijalani
penderita atau obat yang baru saja diminum atau obat yang seharusnya diminum
namun ternyata belum diminum.
M = Makanan/minuman terakhir Peristiwa ini mungkin menjadi dasar
terjadinya kehilangan respon pada penderita. Selain itu data ini juga penting
untuk diketahui bila ternyata penderita harus menjalani pembedahan kemudian di
rumah sakit.
P = Penyakit yang diderita, Riwayat penyakit yang diderita atau pernah
diderita yang mungkin berhubungan dengan keadaan yang dialami penderita pada
saat ini, misalnya keluhan sesak napas dengan riwayat gangguan jantung 3 tahun
yang lalu.
A = Alergi yang dialami.Perlu dicari apakah penyebab
kelainan pada pasien ini mungkin merupakan suatu bentuk alergi, biasanya
penderita atau keluarganya sudah mengetahuinya
K = Kejadian.Kejadian yang dialami korban, sebelum
kecelakaan atau sebelum timbulnya gejala dan tanda penyakit yang diderita saat
ini.
Wawancara ini dapat dilakukan sambil memeriksa korban, tidak perlu menunggu
sampai pemeriksaan selesai dilakukan.
11)
Pemeriksaan Berkelanjutan
Setelah selesai melakukan pemeriksaan dan tindakan, selanjutnya lakukan
pemeriksaan berkala, sesuai dengan berat ringannya kasus yang kita hadapi.
Pada kasus yang dianggap berat, pemeriksaan berkala dilakukan setiap 5
menit, sedangkan pada kasus yang ringan dapat dilakukan setiap 15 menit sekali.
Beberapa hal
yang dapat dilakukan pada pemeriksaan berkala adalah :
a)
Keadaan
respon
b)
Nilai
kembali jalan napas dan perbaiki bila perlu
c)
Nilai
kembali pernapasan, frekuensi dan kualitasnya
d)
Periksa
kembali nadi penderita dan bila perlu lakukan secara rinci bila waktu memang
tersedia.
e)
Nilai
kembali keadaan kulit : suhu, kelembaban dan kondisinya Periksa kembali dari
ujung kepala sampai ujung kaki, mungkin ada bagian yang terlewat atau
membutuhkan pemeriksaan yang lebih teliti.
f)
Periksa
kembali secara seksama mungkin ada bagian yang belum diperiksa atau sengaja
dilewati karena melakukan pemeriksaan terarah.
g)
Nilai
kembali penatalaksanaan penderita, apakah sudah baik atau masih perlu ada
tindakan lainnya. Periksa kembali semua pembalutan, pembidaian apakah masih
cukup kuat, apakah perdarahan sudah dapat di atasi, ada bagian yang belum
terawat.
h)
Pertahankan
komunikasi dengan penderita untuk menjaga rasa aman dan nyaman
12)
Pelaporan dan Serah terima
Biasakanlah untuk membuat laporan secara tertulis. Laporan ini berguna
sebagai catatan anda, PMI dan bukti medis.
Hal-hal yang sebaiknya dilaporkan adalah :
·
Umur
dan jenis kelamin penderita
·
Keluhan
Utama
·
Tingkat
respon
·
Keadaan
jalan napas
·
Pernapasan
·
Sirkulasi
·
Pemeriksaan
Fisik yang penting
·
KOMPAK
yang penting
·
Penatalaksanaan
·
Perkembangan
lainnya yang dianggap penting
Bila ada formulirnya sertakan form laporan ini kepada petugas yang
mengambil alih korban dari tangan anda.
Serah terima dapat dilakukan di lokasi, yaitu saat tim bantuan datang ke
tempat anda, atau anda yang mendatangi fasilitas kesehatan.
D. BHD
1.
Sistem pernapasan dan sirkulasi
a.
Sistem pernapasan, fungsi :
1)
Mengambil
oksigen
2)
Mengeluarkan
CO2
3)
Menghangatkan
dan melembabkan udara ( hidung )
b.
Susunan saluran napas :
1)
Mulut/hidung
2)
Faring
3)
Larings
4)
Trakea
5)
Bronkus
6)
Bronkiolus
7) Alveolus (tempat pertukaran O2 dan CO2 di
paru-paru).
c.
Sistem sirkulasi, fungsi :
1)
Alat
angkut : O2, CO2, zat nutrisi, zat sampah.
2)
Pertahanan
tubuh terhadap penyakit dan racun
3)
Mengedarkan
panas ke seluruh tubuh
4) Membantu membekukan darah bila terjadi
luka
Sistem sirkulasi, terdiri dari :
1)
Jantung
2)
Pembuluh
darah ( arteri, vena, kapiler )
3)
Darah
dan komponennya ( sel darah merah, sel darah putih, keping darah, plasma )
4)
Saluran
limfe
2.
Pengertian mati klinis dan mati biologis
Mati klinis :
Tidak ditemukan adanya pernapasan dan denyut nadi, bersifat reversibel, penderita
punya kesempatan waktu 4-6 menit untuk dilakukan resusitasi tanpa kerusakan
otak.
Mati biologis :
Biasanya terjadi dalam waktu 8-10 menit dari henti jantung, dimulai dengan
kematian sel otak, bersifat irreversibel. ( kecuali berada di suhu yang ekstrim
dingin, pernah dilaporkan melakukan resusitasi selama 1 jam/ lebih dan berhasil
).
Tanda-tanda pasti mati :
a.
Lebam
mayat
b.
Kaku
mayat
c.
Pembusukan
d.
Tanda
lainnya : cedera mematikan.
3.
komponen rantai survival
a.
Kecepatan
dalam permintaan bantuan
b.
Resusitasi
jantung paru ( RJP )
c.
Defibrilasi
d.
Pertolongan
hidup lanjut
4.
komponen Bantuan Hidup Dasar
a.
A (Airway
Control) : penguasan jalan napas
b.
B (Breathing
Support) : bantuan pernapasan
c.
C(Circulatory
Suport) : bantuan sirkulasi (pijatan jantung luar) dan menghentikan perdarahan
besar.
5.
macam penyebab utama sumbatan jalan napas
a.
Lidah
( pada orang dewasa yang tidak ada respon )
b.
Benda
asing ( pada bayi dan anak kecil )
6.
2 macam cara membuka jalan napas
a.
Teknik
angkat dagu-tekan dahi (bila tidak ada trauma kepala,leher, tulang belakang).
b.
Perasat
pendorongan rahang bawah (jaw thrust maneuver)
7.
Cara memeriksa napas
Dengan cara LDR ( lihat, dengar, rasakan ) selama
3-5 detik.
8.
2teknik
untuk membersihkan jalan napas
a.
Menempatkan
posisi pemulihan
b.
Sapuan
jari
9.
Mengenali sumbatan jalan napas
a.
Sumbatan
parsial : penderita berupaya untuk bernapas, mungkin disertai bunyi napas
tambahan seperti mengirik, mengorok, kumur, dll.
b.
Sumbatan
total : penderita sulit bernapas dan akhirnya akan kehilangan kesadaran
10.
Cara mengatasi sumbatan jalan napas pada berbagai penderita
Sumbatan jalan napas total dapat diatasi dengan Perasat Heimlich (Heimlich
Manuveur), yaitu :
a.
Hentakan
perut : letak kompresi pada pertengahan antara pertemuan iga kanan/kiri dengan
pusar.
b.
Hentakan dada : letak kompresi pada pertengahan tulang dada
11.
Prinsip dasar bantuan pernapasan
a.
Teknik bantuan pernapasan :
1)
Menggunakan
mulut penolong :
Ø mulut ke masker RJP
Ø mulut ke APD
Ø mulut ke mulut/ hidung
2) Menggunakan alat bantu : kantung masker
berkatup (BVM/ Bag Valve Mask)
Bahaya bagi penolong dalam pemberian napas dari mulut ke mulut ;
Ø penyebaran penyakit
Ø kontaminasi bahan kimia
Ø muntahan penderita
b.
Frekwensi pemberian napas buatan untk masing-masing kelompok umur penderita.
1)
Dewasa
: 10-12 x pernapasan/ menit, masing-masing 1,5-2 detik
2)
Anak(1-8
th) : 20 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
3)
Bayi
(0-1 th) : lebih dari 20 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
4)
Bayi
baru lahir : 40 x pernapasan/ menit, masing-masing 1-1,5 detik
12.
Tanda pernapasan adekuat, kurang adekuat dan tidak bernapas
a. Tanda pernapasan adekuat :
Ø Dada dan perut naik turun sirama dengan
pernapasan
Ø Penderita tampak nyaman
Ø Frekuensi cukup ( 12-20x/menit )
b. Tanda pernapasan kurang adekuat :
Ø Gerakan dada kurang baik
Ø Ada suara napas tambahan
Ø Kerja oto bantu napas
Ø Sianosis ( kulit kebiruan )
Ø Frekuensi napas kurang/ berlebih
Ø Perubahan status mental
c.
Tanda
tidak bernapas :
Ø Tidak ada gerakan dada/ perut
Ø Tidak terdengar aliran udara melalui
mulut/ hidung
Ø Tidak terasa hembusan napas dari mulut/
hidung.
13.
Prinsip dasar Bantuan Sirkulasi
Bantuan sirkulasi dilakukan dengan pijatan jantung luar, kedalaman PJL :
Ø Dewasa : 4 – 5 cm
Ø Anak dan bayi : 3 – 4 cm
Ø Bayi : 1,5 – 2,5 cm
14.
Prinsip Resusitasi Jantung Paru (RJP)
Tindakan RJP merupakan gabungan dari ketiga komponen A, B, dan C.
Sebelum melakukan RJP, penolong harus memastikan :
Ø Tidak ada respon
Ø Tidak ada napas
Ø Tidak ada nadi
Ø Alas RJP harus keras dan datar
a. 2 macam rasio pada RJP
1)
Dewasa
dikenal 2 rasio :
2 penolong : 15:2 (15 kali PJL, 2 kali tiupan)
per siklus
1 penolong : 5:1 (5 kali PJL, 1 kali tiupan) per
silkus
2)
Anak
dan bayi hanya dikenal 1 rasio : 5:1 ( 5 kali PJL, 1 kali tiupan ) per silkus
b. Prinsip penekanan pada Pijatan Jantung
Luar
Pijatan jantung luar bisa dilakukan karena jantung terletak diantara tulang
dada dan tulang punggung.
Letak titik pijatan pada PJL :
a)
Dewasa
: 2 jari diatas pertemuan iga terbawah kanan/kiri, menggunakan 2 tangan.
b)
Anak
: 2 jari diatas pertemuan iga terbawah kanan/kiri, menggunakan 1 tangan.
c)
Bayi
: 1 jari dibawah garis imajiner antara kedua puting susu bayi, menggunakan 2 jari
(jari tengah dan jari manis)
c. 6 tanda RJP dilakukan dengan baik
a)
Saat
melakukan PJL, suruh seseorang menilai nadi karotis, bila ada denyut maka berarti
tekanan kita cukup baik.
b)
Gerakan
dada naik/turun dengan baik saat memberikan bantuan napas.
c)
Reaksi
pupil mata mungkin kembali normal
d)
Warna
kulit penderita berangsu-angsur kembali membaik
e)
Mungkin
ada reflek menelan dan bergerak
f) Nadi akan berdenyut kembali
d. 5 macam komplikasi yang dapat terjadi pada
RJP
a)
Patah
tulang dada/ iga
b)
Bocornya
paru-paru ( pneumothorak)
c)
Perdarahan
dalam paru-paru/ rongga dada ( hemothorak )
d)
Luka
dan memar pada paru-paru
e)
Robekan
pada hati
e. 4 keadaan dimana tindakan RJP di hentikan
a)
penderita
pulih kembali
b)
penolong
kelelahan
c)
diambil
alih oleh tenaga yang sama atau yang lebih terlatih
d)
jika
ada tanda pasti mati
f. Kesalahan pada RJP dan akibatnya
KESALAHAN
|
AKIBAT
|
Penderita tdk berbaring pd bidang keras
|
PJL kurang efektif
|
Penderita tidak horisontal
|
Bila kepala lbh tinggi, darah yg ke otak berkurang
|
Tekan dahi angkat dagu, kurang baik
|
Jalan napas terganggu
|
Kebocoran saat melakukan napas buatan
|
Napas buatan tidak efektif
|
Lubang hidung kurang tertutup rapat dan mulut penderita kurang terbuka
saat pernapasan buatan
|
Napas buatan tidak efektif
|
Tekanan terlalu dalam/ terlalu cepat
|
Patah tulang, luka dalam paru-paru
|
Rasio PJL dan napas buatan tidak baik
|
Oksigenasi darah kurang
|
E. PENDARAHAN
1.
Pengertian Perdarahan
Sistem peredaran darah yang terdiri dari 3 komponen utama yaitu jantung,
pembuluh darah dan darah. Dalam tubuh manusia darah relatif selalu
berada dalam pembuluh darah kecuali pada saat masuk dalam jaringan untuk
melakukan pertukaran bahan makanan dan oksigen dengan zat sisa pembakaran tubuh
dan karbondioksida.
a.
Jantung
Bagian sebelah kiri menerima darah yang kaya dengan oksigen setelah
diproses dari paru – paru untuk selanjutnya diedarkan ke seluruh tubuh.
Bagian sebelah kanan menerima darah dari tubuh dan meneruskan ke paru –
paru untuk kembali diperkaya dengan oksigen.
b.
Arteri/Pembuluh Nadi
Adalah pembuluh darah yang mengangkut darah yang kaya dengan oksigen ke
seluruh tubuh. Darah yang keluar berwarna merah segar dan memancar
c.
Vena/Pembuluh Balik
Adalah pembuluh darah yang mengangkut darah dari seluruh tubuh kembali ke
jantung. Darah yang keluar mengalir dan berwarna merah gelap
d.
Kapiler/Pembuluh Rambut
Arteri akan terbagi – bagi menjadi pembuluh yang lebih kecil sehingga dapat
mencapai hingga lebih dekat dengan kulit. Darah yang keluar sangat sedikit dan
kadang hanya berupa titik-titik perdarahan
e.
Denyut
Dapat dirasakan dengan mudah pada daerah dimana Arteri/Pembuluh Nadi berada
dekat dengan kulit.
Lokasi pengecekan denyut yang paling mudah:
1)
Radial – Berada
di pergelangan tangan
2)
Carotid – Berada
di leher
3)
Femoral – Berada
di lipatan paha
Setiap kali jantung berdetak, anda dapat merasakan denyutnya pada sistem
arteri.
f.
Darah
Komposisi
Terdiri atas sel darah putih, sel darah merah, dan plasma darah.
2.
Sumber Perdarahan
Perdarahan terjadi apabila darah keluar dari pembuluh darah oleh berbagai
sebab seperti cedera atau penyakit.
Berdasarkan sumber perdarahan:
a.
Perdarahan
nadi
b.
Perdarahan
pembuluh balik
c.
Perdarahan
pembuluh rambut
3.
Jenis Perdarahan
Perdarahan dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
a.
Perdarahan luar (terbuka), bila kulit juga cedera sehingga darah bisa keluar dari tubuh dan terlihat
ada di luar tubuh.
b.
Perdarahan dalam (tertutup), jika kulit tidak rusak sehingga darah tidak bisa mengalir langsung keluar
tubuh.
Perdarahan yang harus segera ditangani adalah perdarahan
yang dapat mengancam nyawa.
c.
Perdarahan luar
Untuk membantu memperkirakan berapa banyak darah yang telah keluar dari
tubuh penderita, hal yang dipakai adalah keluhan korban dan tanda vital. Bila
keluhan korban sudah mengarah ke gejala dan tanda syok seperti yang dibahas
dalam topik ini maka penolong wajib mencurigai bahwa kehilangan darah terjadi
dalam jumlah yang cukup banyak.
Perawatan untuk Perdarahan luar
1)
Tekanan
Langsung
2)
Elevasi
3)
Titik
Tekan
4)
Immobilisasi
d.
Menggunakan Torniket
Torniket hanya digunakan dalam keadaan gawat darurat dimana tidak ada cara
lain utnuk menghentikan perdarahan. Torniket diaplikasikan sedekat mungkin
dengan titik perdarahan.
e.
Perdarahan dalam
Perdarahan dalam dapat berkisar dari skala kecil hingga yang mengancam jiwa
penderita. Kehilangan darah tidak dapat diamati pada perdarahan dalam.
Gejala dan Tanda
Beberapa tanda perdarahan dalam dapat diidentifikasi. Beberapa adalah sbb.:
1)
Batuk
darah berwarna merah muda
2)
Memuntahkan
darah berwarna gelap (seperti ampas kopi)
3)
Terdapat
memar
4)
Bagian
Abdomen terasa lunak
Perawatan untuk Perdarahan dalam
Ingatlah untuk menggunakan standard universal, amankan lokasi kejadian dan
hubungi tenaga terlatih.
1)
Jaga
jalan napas tetap terbuka dan berikan oksigen sesuai peraturan
2)
Pertahankan
panas tubuh penderita, tapi jangan sampai kepanasan
3)
Atasi
Syok
4)
Pindahkan
penderita secepatnya
4. Laporkan kemungkinan adanya
perdarahan dalam kepada tenaga terlatih segera setelah mereka tiba di lokasi.
Bahaya lain pada perdarahan adalah kemungkinan terjadinya
penularan penyakit. Banyak kuman penyakit bertahan hidup di dalam darah
manusia, sehingga bila darah korban ini bisa masuk kedalam tubuh penolong maka
ada kemungkinan penolong dapat tertular penyakit.
Perdarahan
dalam harus dicurigai pada beberapa keadaan seperti :
a. Riwayat benturan benda tumpul
yang kuat
b. Memar
c. Batuk darah
d. Muntah darah
e. Buang air besar atau air kecil
berdarah
f. Luka tusuk
g. Patah tulang tertutup
h. Nyeri tekan, kaku atau kejang
dinding perut
5.
Perawatan Perdarahan
Ø Perlindungan terhadap infeksi pada penanganan
perdarahan :
a. Pakai APD agar tidak terkena darah atau cairan
tubuh korban.
b. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, makanan
sewaktu memberi perawatan
c. Cucilah tangan segera setelah selesai merawat
d. Dekontaminasi atau buang bahan yang sudah ternoda
dengan darah atau cairan tubuh korban.
Ø Pada perdarahan besar:
a. Jangan buang waktu mencari penutup luka
b. Tekan langsung dengan tangan (sebaiknya
menggunakan sarung tangan) atau dengan bahan lain.
c. Bila tidak berhenti maka tinggikan bagian
tersebut lebih tinggi dari jantung (hanya pada alat gerak), bila masih belum
berhenti maka lakukan penekanan pada titik-titik tekan.
d. Pertahankan dan tekan cukup kuat.
e. Pasang pembalutan penekan
Ø Pada perdarahan ringan atau terkendali :
a. Gunakan tekanan langsung dengan penutup luka
b. Tekan sampai perdarahan terkendali
c. Pertahankan penutup luka dan balut
d. Sebaiknya jangan melepas penutup luka atau balutan pertama
Ø Perdarahan dalam atau curiga ada
perdarahan dalam
a. Baringkan dan istirahatkan penderita
b. Buka jalan napas dan pertahankan
c. Periksa berkala pernapasan dan denyut nadi
d. Perawatan syok bila terjadi syok atau diduga akan menjadi syok
e. Jangan beri makan dan minum
f. Rawatlah cedera berat lainnya bila ada
g. Rujuk ke fasilitas kesehatan
6.
Penanganan perdarahan berarti mengendalikan perdarahan, bukan berarti Syok
Syok terjadi bila sistem peredaran darah (sirkulasi) gagal mengirimkan
darah yang mengandung oksigen dan bahan nutrisi ke alat tubuh yang penting
(terutama otak, jantung dan paru-paru).
a.
Penyebab
1)
Kegagalan
jantung memompa darah
2)
Kehilangan
darah dalam jumlah besar
3)
Pelebaran
( dilatasi ) pembuluh darah yang luas, sehingga darah tidak dapat mengisinya
dengan baik
4)
Kekurangan
cairan tubuh yang banyak misalnya diare.
b.
Gejala dan tanda syok
1)
Nadi
cepat dan lemah
2)
Napas
cepat dan dangkal
3)
Kulit
pucat,dingin dan lembab
4)
Sering
kebiruan pada bibir dan cuping telinga
5)
Haus
6)
Mual
dan muntah
7)
Lemah
dan pusing
8)
Merasa
seperti mau kiamat, gelisah
c.
Penanganan syok
1)
Bawa
penderita ke tempat teduh dan aman
2)
Tidurkan
telentang, tungkai ditinggikan 20 – 30 cm bila tidak ada kecurigaan patah
tulang belakang atau patah tungkai. Bila menggunakan papan spinal atau tandu
maka angkat bagian kaki.
3)
Pakaian
penderita dilonggarkan
4)
Cegah
kehilangan panas tubuh dengan beri selimut penutup
5)
Tenangkan
penderita
6)
Pastikan
jalan napas dan pernapasan baik.
7)
Kontrol
perdarahan dan rawat cedera lainnya bila ada
8)
Jangan
beri makan dan minum.
9)
Periksa
berkala tanda vital secara berkala
10) Rujuk ke fasilitas kesehatan
F. Jaringan Lunak
1.
Pengertian
Cedera
jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf atau
pembuluh darah akibat suatu ruda paksa. Keadaan ini umumnya dikenal dengan
istilah luka. Beberapa penyulit yang dapat terjadi adalah perdarahan,
kelumpuhan serta berbagai gangguan lainnya sesuai dengan penyebab dan beratnya
cedera yang terjadi.
2.
Klasifikasi Luka
Luka secara garis besar dibagi menjadi 2 yaitu :
a. Luka terbuka
Cedera jaringan lunak disertai kerusakan / terputusnya jaringan kulit yaitu
rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit.
Luka terbuka dapat ditemukan dalam berbagai bentuk diantaranya
1)
Luka lecet
Terjadi biasanya akibat gesekan dengan permukaan yang tidak rata
2)
Luka robek
Luka ini memiliki ciri tepi yang tidak beraturan, biasanya terjadi akibat
tumbukan dengan benda yang relatif tumpul. Merupakan luka yang paling banyak
ditemukan.
3)
Luka sayat
Diakibatkan oleh benda tajam yang mengenai tubuh manusia. Bentuk lukanya
biasanya rapi. Sering merupakan kasus kriminal
4)
Luka tusuk
Terjadi bila benda yang melukai bisa masuk jauh ke dalam tubuh, biasanya
kedalaman luka jauh dibandingkan lebar luka. Bahayanya alat dalam tubuh mungkin
terkena.
5)
Luka avulsi
Luka ini ditandai
dengan bagian tubuh yang terlepas, namun masih ada bagian yang menempel.
6)
Luka amputasi
Bagian tubuh tertentu putus.
b. Luka tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/terputusnya jaringan kulit, yang
rusak hanya jaringan di bawah kulit.
Pembagian
ini tidak menjadi penentu berat ringannya suatu cedera.
Luka tertutup yang sering ditemukan adalah :
1)
Luka memar
Terjadi akibat benturan dengan benda tumpul, biasanya terjadi di daerah
permukaan tubuh, darah keluar dari pembuluh dan terkumpul di bawah hulit
sehingga bisa terlihat dari luar berupa warna merah kebiruan
2)
Hematoma (darah yang terkumpul di jaringan)
Prinsipnya sama dengan luka memar tetapi pembuluh darah yang rusak berada
jauh di bawah permukaan kulit dan biasanya besar, sehingga yang terlihat adalah
bengkak, biasanya besar yang kemerahan.
3)
Luka remuk
Terjadi akibat himpitan gaya yang sangat besar. Dapat juga menjadi luka
terbuka. Biasanya tulang menajadi patah di beberapa tempat.
G. Penutup dan Pembalut Luka
Penutup luka
1. Membantu mengendalikan perdarahan
2. Mencegah kontaminasi lebih lanjut
3. Mempercepat penyembuhan
4. Mengurangi nyeri
Pembalut
Pembalut adalah bahan yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka.
Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut
- Penekanan untuk membantu menghentikan perdarahan.
- Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
- Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera.
Pemasangan
yang baik akan membantu proses penyembuhan.
Beberapa jenis pembalut
Pembalut pita/gulung.
Pembalut segitiga (mitela).
Pembalut penekan.
Penutupan luka
Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan
luka.
Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum
menutup luka, kecuali bila luka disertai perdarahan, maka prioritasnya adalah
menghentikan perdarahan tersebut.
Pemasangan penutup luka harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga permukaan penutup yang menempel pada bagian luka tidak
terkontaminasi
Pembalutan
Jangan memasang pembalut sampai perdarahan
terhenti, kecuali pembalutan penekanan untuk menghentikan perdarahan.
Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu
longgar.
Jangan biarkan ujung bahan terurai, karena dapat
tersangkut pada saat memindahkan korban
Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah
yang dibalut lebih lebar untuk menambah luasnya permukaan yang mengalami
tekanan diperluas sehingga mencegah terjadinya kerusakan jaringan.
Jangan menutupi ujung jari, bagian ini dapat
menjadi petunjuk apabila pembalutan kita terlalu kuat yaitu dengan mengamati
ujung jari. Bila pucat artinya pembalutan terlalu kuat dan harus diperbaiki.
Khusus pada anggota gerak pembalutan dilakukan
dari bagian yang jauh lebih dahulu lalu mendekati tubuh.
Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan,
misalnya untuk pembalutan sendi jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut
dalam keadaan lurus.
Penggunaan penutup luka penekan
Kombinasi penutup luka dan pembalut dapat juga dipakai untuk membantu
melakukan tekanan langsung pada kasus perdarahan. Langkah-langkahnya :
- Tempatkan beberapa penutup luka kasa steril langsung atas luka dan tekan.
- Beri bantalan penutup luka.
- Gunakan pembalut rekat, menahan penutup luka.
- Balut.
- Periksa denyut nadi ujung bawah daerah luka (distal).
H. Perawatan luka
1.
Terbuka
a.
Pastikan
daerah luka terlihat
b.
Bersihkan
daerah sekitar luka
c.
Kontrol
perdarahan bila ada
d.
Cegah
kontaminasi lanjut
e.
Beri
penutup luka dan balut
f.
Baringkan
penderita bila kehilangan banyak darah dan lukanya cukup parah
g.
Tenangkan
penderita
h.
Atasi
syok bila ada, bila perlu rawat pada posisi syok walau syok belum terjadi
i.
Rujuk
ke fasilitas kesehatan
2.
Perawatan Luka Tertutup
Lakukan perawatan seperti halnya terjadi
perdarahan dalam
Khusus untuk luka memar dapat dilakukan pertolongan sebagai berikut :
a. Berikan kompres dingin (misalnya kantung es)
b. Balut tekan
c. Istirahatkan anggota gerak tersebut
d. Tinggikan anggota gerak tersebut
Bila ada
kecurigaan perdarahan besar maka sebaiknya pederita dirawat seperti syok.
3.
Perawatan luka dengan benda asing menancap
Langkah-langkah perawatan luka yang disertai dengan menancapnya benda asing
adalah sebagai berikut :
a.
Stabilkan
benda yang menancap secara manual.
b.
Jangan dicabut.
Benda asing yang menancap tidak pernah boleh dicabut
c.
Bagian
yang luka dibuka sehingga terlihat dengan jelas.
d.
Kendalikan
perdarahan, hati-hati jangan sampai menekan benda yang menancap
e.
Stabilkan
benda asing tersebut dengan menggunakan penutup luka tebal, atau berbagai
variasi misalnya pembalut donat, pembalut gulung dan lain-lainnya.
f.
Rawat
syok bila ada
g.
Jaga
pasien tetap istirahat dan tenang.
h.
Rujuk
ke fasilitas kesehatan.
I. Patah Tulang
1.
Cedera Otot Rangka
Alat gerak yang terdiri dari tulang, sendi, jaringan ikat dan otot pada
manusia sangat penting. Setiap cedera atau gangguan yang terjadi pada sistem
ini akan mengakibatkan terganggunya pergerakan seseorang untuk sementara atau
selamanya.
Gangguan yang paling sering dialami pada cedera otot rangka adalah Patah
tulang. Pengertian patah tulang ialah terputusnya jaringan tulang, baik
seluruhnya atau hanya sebagian saja.
Penyebab
Pada dasarnya tulang itu merupakan benda padat, namun masih sedikit
memiliki kelenturan. Bila teregang melampau batas kelenturannya maka tulang
tersebut akan patah.
Cedera dapat terjadi sebagai akibat :
a.
Gaya langsung.
Tulang langsung menerima gaya yang besar sehingga
patah.
b.
Gaya tidak langsung.
Gaya yang terjadi pada satu bagian tubuh diteruskan ke bagian tubuh lainnya
yang relatif lemah, sehingga akhirnya bagian lain iilah yang patah. Bagian yang
menerima benturan langsung tidak mengalami cedera berarti
c.
Gaya puntir.
Selain gaya langsung, juga tulang dapat menerima puntiran atau terputar
sampai patah. Ini sering terjadi pada lengan.
Mekanisme terjadinya cedera harus diperhatikan pada kasus-kasus yang
berhubungan dengan patah tulang. Ini dapat memberikan gambaran kasar kepada
kita seberapa berat cedera yang kita hadapi.
2.
Gejala dan tanda patah tulang
Mengingat besarnya gaya yang diterima maka kadang kasus patah tulang
gejalanya dapat tidak jelas. Beberapa gejala dan tanda yang mungkin dijumpai
pada patah tulang :
a.
Terjadi
perubahan bentuk pada anggota badan yang patah. Seing
merupakan satu-satunya tanda yang terlihat. Cara yang paling baik untuk
menentukannya adalah dengan membandingkannya dengan sisi yang sehat.
b.
Nyeri di daerah
yang patah dan kaku pada saat ditekan atau bila digerakkan.
c.
Bengkak,
disertai memar / perubahan warna di daerah yang cedera.
d.
Terdengar
suara berderak pada daerah yang patah (suara ini tidak perlu
dibuktikan dengan menggerakkan bagian cedera tersebut).
e.
Mungkin
terlihat bagian tulang yang patah pada luka.
3.
Pembagian Patah Tulang
Berdasarkan kedaruratannya patah tulang dibagi
menjadi 2 yaitu :
- Patah tulang terbuka
- Patah tulang tertutup
Yang membedakannya adalah lapisan kulit di atas bagian yang patah. Pada
patah tulang terbuka, kulit di permukaan daerah yang patah terluka. Pada kasus
yang berat bagian tulang yang patah terlihat dari luar. Perbedaannya adalah
jika ada luka maka kuman akan dengan mudah sampai ke tulang, sehingga dapat
terjadi infeksi tulang. Patah tulang terbuka termasuk kedaruratan segera.
J. Pembidaian
Penanganan patah tulang yang paling utama adalah dengan melakukan
pembidaian. Pembidaian adalah berbagai tindakan dan upaya untuk
mengistirahatkan bagian yang patah.
1.
Tujuan pembidaian
a. Mencegah pergerakan/pergeseran dari ujung
tulang yang patah.
b. Mengurangi terjadinya cedera baru
disekitar bagian tulang yang patah.
c. Memberi istirahat pada anggota badan yang
patah.
d. Mengurangi rasa nyeri.
e. Mempercepat penyembuhan
2.
Beberapa macam jenis bidai :
a.
Bidai keras.
Umumnya terbuat dari kayu, alumunium, karton, plastik atau bahan lain yang
kuat dan ringan. Pada dasarnya merupakan bidai yang paling baik dan sempurna
dalam keadaan darurat. Kesulitannya adalah mendapatkan bahan yang memenuhi
syarat di lapangan.
Contoh : bidai kayu, bidai udara, bidai vakum.
b.
Bidai traksi.
Bidai bentuk jadi dan bervariasi tergantung dari pembuatannya, hanya
dipergunakan oleh tenaga yang terlatih khusus, umumnya dipakai pada patah
tulang paha.
Contoh : bidai traksi tulang paha
c.
Bidai improvisasi.
Bidai yang dibuat dengan bahan yang cukup kuat dan ringan untuk penopang.
Pembuatannya sangat tergantung dari bahan yang tersedia dan kemampuan
improvisasi si penolong.
Contoh : majalah, koran, karton dan lain-lain.
d.
Gendongan/Belat dan bebat.
Pembidaian dengan menggunakan pembalut, umumnya dipakai mitela (kain
segitiga) dan memanfaatkan tubuh penderita sebagai sarana untuk menghentikan
pergerakan daerah cedera.
Contoh : gendongan lengan.
3.
Pedoman umum pembidaian
Membidai dengan bidai jadi ataupun improvisasi, haruslah tetap mengikuti
pedoman umum.
a.
Sedapat
mungkin beritahukan rencana tindakan kepada penderita.
b.
Sebelum
membidai paparkan seluruh bagian yang cedera dan rawat perdarahan bila ada.
c.
Selalu
buka atau bebaskan pakaian pada daerah sendi sebelum membidai, buka perhiasan
di daerah patah atau di bagian distalnya.
d.
Nilai
gerakan-sensasi-sirkulasi (GSS) pada bagian distal cedera sebelum melakukan
pembidaian.
e.
Siapkan
alat-alat selengkapnya.
f.
Jangan
berupaya merubah posisi bagian yang cedera. Upayakan membidai dalam posisi
ketika ditemukan.
g.
Jangan
berusaha memasukkan bagian tulang yang patah.
h.
Bidai
harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih
dulu pada anggota badan penderita yang sehat.
i.
Bila
cedera terjadi pada sendi, bidai kedua tulang yang mengapit sendi tersebut.
Upayakan juga membidai sendi distalnya.
j.
Lapisi
bidai dengan bahan yang lunak, bila memungkinkan.
k.
Isilah
bagian yang kosong antara tubuh dengan bidai dengan bahan pelapis.
l.
Ikatan
jangan terlalu keras dan jangan longgar.
m.
Ikatan
harus cukup jumlahnya, dimulai dari sendi yang banyak bergerak, kemudian sendi
atas dari tulang yang patah.
n.
Selesai
dilakukan pembidaian, dilakukan pemeriksaan GSS kembali, bandingkan dengan
pemeriksaan GSS yang pertama.
o.
Jangan
membidai berlebihan.
K. Pertolongan cedera alat gerak
1.
Lakukan
penilaian dini.
a.
Kenali
dan atasi keadaan yang mengancam jiwa.
b.
Jangan
terpancing oleh cedera yang terlihat berat.
2.
Lakukan
pemeriksaan fisik.
3.
Stabilkan
bagian yang patah secara manual, pegang sisi sebelah atas dan sebelah bawah
cedera, jangan sampai menambah rasa sakit penderita.
4.
Paparkan
seluruh bagian yang diduga cedera.
5.
Atasi
perdarahan dan rawat luka bila ada.
6.
Siapkan
semua peralatan dan bahan untuk membidai.
7. Lakukan pembidaian.
8. Kurangi rasa sakit.
a.
Istirahatkan
bagian yang cedera.
b.
Kompres
es bagian yang cedera (khususnya pada patah tulang tertutup).
c.
Baringkan
penderita pada posisi yang nyaman.
L. Luka Bakar
Sebab :
Ø Panas
Ø Kimia
Ø Listrik
Ø Radiasi
1. PENGGOLONGAN
Berdasarkan dalamnya luka bakar dibagi menjadi :
a.
Luka
bakar superfisial (derajat satu)
Hanya meliputi lapisan kulit yang paling atas saja
(epidermis).
Ditandai dengan kemerahan, nyeri dan kadang-kadang bengkak
b.
Luka
bakar derajat dua (sedikit lebih dalam)
Meliputi lapisan paling luar kulit yang rusak dan lapisan dibawahnya
terganggu. Luka bakar jenis ini paling sakit , ditandai dengan
gelembung-gelembung pada kulit berisi cairan, bengkak, kulti kemerahan atau
putih, lembab dan rusak.
c.
Luka
bakar derajat tiga
Lapisan yang terkena tidak terbatas, bahkan dapat sampai ke tulang dan
organ dalam. Luka bakar ini paling berat dan ditandai dengan kulit biasanya
kering, pucat atau putih, namun dapat juga gosong dan hitam.Dapat diikuti
dengan mati rasa karena kerusakan saraf. Daerah disekitarnya nyeri. Berbeda
dengan derajat satu dan dua luka bakar derajat tiga tidak menimbulkan nyeri
d. Luas Luka Bakar
Gambar rumus sembilan
Rumus telapak tangan.
Cara lain untuk
menghitung luas luka bakar adalah pembandingkannya dengan
luas telapak tangan korban. Telapak tangan korban dianggap memiliki luas 1%
luas permukaan tubuh.
Perlu diingat
bahwa perhitungan luas luka bakar dihitung berdasarkan masing-masing derajat
luka bakar.
e. Derajat Berat Luka Bakar
Derajat berat luka bakar ditentukan oleh dua faktor utama yaitu luasnya
permukaan tubuh yang mengalami luka bakar dan lokasinya.
1) Luka bakar ringan
a)
Luka
bakar derajat tiga kurang dari 2% luas, kecuali pada wajah, tangan, kaki,
kemaluan atau saluran napas
b)
Luka
bakar derajat dua kurang dari 15%
c)
Luka
bakar derajat satu kurang dari 50%
2) Luka bakar sedang
a)
Luka
bakar derajat tiga antara 2% sampai 10%, kecuali pada wajah, tangan, kaki,
kemaluan atau saluran napas
b)
Luka
bakar derajat dua antara 15% sampai 30%
c)
Luka
bakar derajat satu lebih dari 50%
3) Luka bakar berat
a)
Semua
luka bakar yang disertai cedera pada saluran napas, cedera jaringan lunak dan
cedera tulang
b)
Luka
bakar derajat dua atau tiga pada wajah, tangan, kaki, kemaluan atau saluran
napas
c)
Luka
bakar derajat tiga di atas 10%
d)
Luka
bakar derajat dua lebih dari 30%
e)
Luka
bakar yang disertai cedera alat gerak
f)
Luka
bakar mengelilingi alat gerak
- Beberapa penyulit pada luka bakar adalah :
a.
Usia
penderita, biasanya mereka dengan usia kurang dari 5 tahun atau lebih dari 55
tahun. Penanganan
kelompok usia ini biasanya lebih sulit.
b.
Adanya
penyakit penyerta. Proses penatalaksanaan sering menjadi sukar dan berkepanjangan.
- Penatalaksanaan luka bakar
a.
Keamanan
keadaan
b.
Keamanan
penolong dan orang lain
Hentikan proses luka bakarnya. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena.
Bila ada bahan kimia alirkan air terus menerus sekurang-kurangnya selama 20
menit
a.
Buka
pakaian dan perhiasan
b.
Lakukan
penilaian dini
c.
Berikan
pernapasan buatan bila perlu
d.
Tentukan
derajat berat dan luas luka bakar
e.
Tutup
luka bakar dengan penutup luka dan pembalut longgar, jangan memecahkan
gelembungnya. Bila yang terbakar adalah jari-jari maka balut masing-masing jari
tersendiri
f.
Upayakan
penderita senyaman mungkin
M. PEMINDAHAN
Saat tiba di lokasi kita mungkin menemukan bahwa seorang korban mungkin
harus dipindahkan. Pada situasi yang berbahaya tindakan cepat dan waspada
sangat penting. Penangan korban yang salah akan menimbulkan cedera lanjutan
atau cedera baru.
1. Mekanika Tubuh
Penggunaan tubuh dengan baik untuk
memfasilitasi pengangkatan dan pemindahan korban untuk mencegah cedera pada
penolong.
Cara yang salah dapat menimbulkan cedera. Saat mengangkat ada beberapa hal
yang harus diperhatikan :
a.
Rencanakan
pergerakan sebelum mengangkat
b.
Gunakan
tungkai jangan punggung
c.
Upayakan
untuk memindahkan beban serapat mungkin dengan tubuh
d.
Lakukan
gerakan secara menyeluruh dan upayakan agar bagian tubuh saling menopang
e.
Bila
dapat kurangi jarak atau ketinggian yang harus dilalui korban
f.
Perbaiki
posisi dan angkatlah secara bertahap
Hal-hal tersebut di atas harus selalu dilakukan bila akan memindahkan atau
mengangkat korban. Kunci yang paling utama adalah menjaga kelurusan tulang
belakang. Upayakan kerja berkelompok, terus berkomunikasi dan lakukan
koordinasi.
Mekanika tubuh yang baik tidak akan membantu mereka yang tidak siap secara
fisik.
2.
Memindahkan Korban
Kapan penolong harus memindahkan korban sangat tergantung dari keadaan.
Secara umum, bila tidak ada bahaya maka jangan memindahkan korban. Lebih baik
tangani di tempat.
Pemindahan korban ada 2 macam yaitu darurat dan
tidak darurat
a. Pemindahan Darurat
1) Pemindahan ini hanya dilakukan bila ada bahaya langsung terhadap korban
Contoh situasi yang membutuhkan pemindahan segera:
a)
Kebakaran
atau bahaya kebakaran
b)
Ledakan
atau bahaya ledakan
c)
Sukar
untuk mengamankan korban dari bahaya di lingkungannya :
Ø Bangunan yang tidak stabil
Ø Mobil terbalik
Ø Kerumunan masa yang resah
Ø Material berbahaya
Ø Tumpahan minyak
Ø Cuaca ekstrim
d)
Memperoleh
akses menuju korban lainnya
e)
Bila
tindakan penyelamatan nyawa tidak dapat dilakukan karena posisi korban,
misalnya melakukan RJP
Bahaya terbesar pada pemindahan darurat adalah memicu terjadinya cedera
spinal. Ini dapat dikurangi dengan melakukan gerakan searah dengan sumbu
panjang badan dan menjaga kepala dan leher semaksimal mungkin
2) Beberapa macam pemindahan darurat
a)
Tarikan
baju
b)
Tarikan
selimut atau kain
c)
Tarikan
bahu/lengan
d)
Menggendong
e)
Memapah
f)
Membopong
g)
Angkatan
pemadam
b. Pemindahan Biasa
Bila tidak ada bahaya langsung terhadap korban, maka korban hanya
dipindahkan bila semuanya telah siap dan korban selesai ditangani.
Contohnya :
1)
Angkatan
langsung
2)
Angkatan
ekstremitas (alat gerak)
c. Posisi Korban
Bagaimana meletakkan penderita tergantung dari
keadaannya.
1)
Korban
dengan syok
2)
Tungkai
ditinggikan
3)
Korban
dengan gangguan pernapasan
4)
Biasanya
posisi setengah duduk
5)
Korban
dengan nyeri perut
6)
Biasanya
posisi meringkuk seperti bayi
7)
Posisi
pemulihan
8)
Untuk
korban yang tidak sadar atau muntah
Tidak mungkin untuk membahas semua keadaan. Situasi di lapangan dan keadaan
korban akan memberikan petunjuk bagaimana posisi yang terbaik.
d. Peralatan Evakuasi
1)
Tandu
beroda
2)
Tandu
lipat
3)
Tandu
skop / tandu ortopedi/ tandu trauma
4)
Vest
type extrication device (KED)
5)
Tandu
kursi
6)
Tandu
basket
7)
Tandu
fleksibel
8)
Kain
evakuasi
9)
Papan
spinal
N. Kedaruratan
Semua yang dialami korban yang tidak tergologn dalam kecelakaan dimasukan
dalam kelompok kedaruratan medis. Seseorang yang mengalami kasus medis mungkin
juga dapat mengalami cedera sebagai akibat dari gejala gangguan fungsi tubuh
yang terjadi misalnya kehilangan kesadaran lalu terjatuh sehingga terjadi suatu
luka.
Dalam penatalaksanaan Pertolongan Pertama kasus medis tidak banyak berbeda
antara yang satu dengan yang lainnya. Hal yang paling penting adalah mengenali
kedaruratannya, terutama secara dini. Kesimpulan mengenai keadaan yang dihadapi
hampir 80% diperoleh berdasarkan wawancara dengan penderita bila sadar,
keluarganya atau saksi mata dan sumber informasi lainnya. Dalam penatalaksanaan
penderita yang paling penting adalah menjaga jalan napas dan memantau tanda
vital penderita secara teratur.
Gejala dan tanda pada kedaruratan medis.
Gejala dan tanda pada kedaruratan medis sangat beragam, khas maupun tidak
khas. Perubahan yang tidak normal dari tanda vital penderita sudah mengarah
pada kedaruratan medis. Beberapa hal yang dapat diamati pada penderita yang
mengarahkan kecurigaan kita pada adanya masalah medis adalah :
Gejala :
- Demam
- Nyeri
- Mual, muntah
- Buang air kecil berlebihan atau tidak sama sekali
- Pusing, perasaan mau pingsan, merasa akan kiamat
- Sesak atau merasa sukar bernapas
- Rasa haus atau lapar berlebihan, rasa aneh pada mulut
Tanda :
1.
Perubahan
status mental (tidak sadar, bingung)
2.
Perubahan
irama jantung : nadi cepat atau sangat lambat, tidak teratur, lemah atau sangat
kuat.
3.
Perubahan
pernapasan: irama dan kualitas warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan,
terlalu merah)
4.
Perubahan
keadaan kulit : suhu, kelembaban, keringat berlebihan, sangat kering, termasuk
perubahan warna pada selaput lendir (pucat, kebiruan, terlalu merah)
5.
Manik
mata : sangat lebar, atau sangat kecil
6.
Bau
khas dari mulut atau hidung
7.
Aktivitas
otot misalnya kejang atau kelumpuhan
8.
Gangguan
saluran cerna : mual, muntah atau diare
9.
Tanda-tanda
lainnya yang seharusnya tidak ada.
Anggap semua keluhan penderita adalah benar. Bila penderita merasa tidak
enak atau nyaman maka perlakukan sebagai kasus medis
Beberapa gangguan medis yang umum ditemukan adalah
:
1.
Pingsan
(Syncope/collapse) :
Terjadi karena peredaran darah yang ke organ otak berkurang, yang dapat
terjadi akibat emosi yang hebat, berada dalam ruangan yang penuh orang tanpa
udara segar yang cukup, letih dan lapar, terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Gejala dan tanda:
- Perasaan limbung.
- Pandangan berkunang-kunang dan telinga berdenging.
- Lemas, keluar keringat dingin.
- Menguap.
- Dapat menjadi tidak ada respon, yang biasanya berlangsung hanya beberapa menit.
- Denyut nadi lambat.
Penatalaksanaan :
- Baringkan penderita dengan tungkai ditinggikan.
- Longgarkan pakaian.
- Usahakan penderita menghirup udara segar.
- Periksa cedera lainnya.
- Beri selimut, agar badannya hangat.
- Bila pulih, usahakan istirahatkan beberapa menit.
- Bila tidak cepat pulih, maka:
- periksa napas dan nadi.
- posisikan stabil.
- bawa ke fasilitas kesehatan
2.
Paparan
panas
Panas dapat mengakibatkan gangguan pada tubuh. Umumnya ada 3 macam gangguan
yang terjadi:
a.
Kram
panas
Terjadi akibat kehilangan garam tubuh yang berlebihan melalui keringat.
Gejala dan Tanda:
1)
Kejang
pada otot yang disertai nyeri
2)
Tungkai
dan perut.
3)
Kelelahan.
4)
Mual
5)
Mungkin
pingsan
Penatalaksanaan :
1)
Baringkan
penderita di tempat teduh.
2)
Beri
minum kepada penderita, bila perlu campur sedikit garam. JANGAN MEMBUANG WAKTU
UNTUK MENCARI GARAM.
3)
Rujuk
ke fasilitas kesehatan.
b.
Kelelahan
Panas
Terjadi akibat kondisi yang tidak fit pada saat melakukan aktivitas di
lingkungan yang suhu udaranya relatif tinggi, yang mengakibatkan terganggunya
aliran darah.
Gejala dan tanda :
1)
Pernapasan
cepat dan dangkal.
2)
Nadi
lemah.
3)
Kulit
teraba dingin, keriput, lembab dan selaput lendir pucat
4)
Pucat,
keringat berlebihan.
5)
Lemah.
6)
Pusing,
kadang tidak repon.
Penatalaksanaan :
1)
Baringkan
penderita di tempat yang teduh.
2)
Kendorkan
pakaian yang mengikat.
3)
Tinggikan
tungkai penderita sekitar 20 – 30 cm.
4)
Berikan
oksigen bila ada.
5)
Beri
minum bila penderita sadar.
6)
Rujuk
ke fasilitas kesehatan.
c.
Sengatan
Panas
Merupakan keadaan yang mengancam nyawa. Suhu tubuh menjadi terlalu tinggi
dan pada banyak kasus penderita tidak lagi berkeringat. Bila tidak diatasi
dengan segera, maka sel otak akan segera mati.
Gejala dan tanda:
1)
Pernapasan
cepat dan dalam.
2)
Nadi
cepat dan kuat diikuti nadi cepat tetapi lemah.
3)
Kulit
teraba kering, panas kadang kemerahan
4)
Manik
mata melebar.
5)
Kehilangan
kesadaran.
6)
Kejang
umum atau gemetar pada otot.
Penatalaksanaan :
1)
Turunkan
suhu tubuh penderita secepat mungkin.
2)
Letakkan
kantung es pada ketiak, lipat paha, dibelakang lutut dan sekitar mata kaki
serta di samping leher.
3)
Bila
memungkinkan, masukkan penderita ke dalam bak berisi air dingin dan tambahkan
es ke dalamnya.
4)
Rujuk
ke fasilitas kesehatan.
3.
Paparan
dingin (Hipotermia)
Udara dingin dapat menyebabkan suhu tubuh menurun. Suhu lingkungan tidak
perlu sampai beku untuk mencetuskan hipotermia. Ada beberapa keadaan yang
memperburuk hipotermia yaitu faktor angin dan kekurangan makanan.
Gejala dan tanda
Hipotermia sedang :
a.
Menggigil.
b.
Terasa
melayang.
c.
Pernapasan
cepat, nadi lambat.
d.
Gangguan
penglihatan.
e.
Reaksi
mata lambat.
f.
Gemetar.
Hipotermia berat :
a.
Pernapasan
sangat lambat.
b.
Denyut
nadi sangat lambat.
c.
Tidak
ada respon.
d.
Manik
mata melebar dan tidak bereaksi.
e.
Alat
gerak kaku.
f.
Tidak
menggigil.
Penanganan hipotermia:
Rawat penderita dengan hati hati, berikan rasa
nyaman.
a.
Penilaian
dini dan pemeriksaan penderita.
b.
Pindahkan
penderita dari lingkungan dingin.
c.
Jaga
jalan napas dan berikan oksigen bila ada.
d.
Ganti
pakaian yang basah, selimuti penderita, upayakan agar tetap kering.
e.
Bila
penderita sadar dapat diberikan minuman hangat secara pelan pelan.
f.
Pantau
tanda vital secara berkala.
g.
Rujuk
ke fasilitas kesehatan.
O. Keracunan
1.
Pengertian:
Racun
adalah suatu zat yang bila masuk dalam tubuh dalam jumlah tertentu dapat
menyebabkan reaksi tubuh yang tidak diinginkan bahkan dapat menimbulkan
kematian.
Dalam
keadaan sehari-hari ada beberapa zat yang sering digolongkan sebagai racun
namun sebenarnya bahan ini adalah korosif, yaitu dapat menyebabkan luka bakar
pada bagian tubuh dalam bila masuk ke dalam tubuh. Penatalaksanaan penderita
pada kasus ini biasanya disamakan dengan keracunan.
2.
Cara terjadinya Keracunan
pada manusia:
a. Sengaja bunuh diri
Dengan
minum obat-obatan/cairan kimia dalam jumlah yang berlebihan misalnya minum
racun serangga, obat tidur berlebihan. Sering berakhir dengan kematian, kecuali
penemuan kasus keracunan tersebut cepat dan langsung mendapat pertolongan.
b. Keracunan tidak disengaja
Misalnya:
1)
Makan
makanan/minuman yang telah tercemar oleh kuman/ zat kimia tertentu.
2)
Salah
minum yang biasanya terjadi pada anak-anak/orang tua yang sudah pikun misalnya
obat kutu anjing disangka susu dan sebagainya.
3)
Makan
singkong yang mengandung kadar sianida tinggi.
4)
Udara
yang tercemar gas beracun.
3.
Jalur masuknya racun dalam
tubuh manusia
a. Melalui mulut/alat pencernaan.
1)
Obat-obatan
terutama obat tidur/penenang, biasanya dalam jumlah besar atau diminum dengan
bahan lain sehingga terjadi reaksi keracunan
2)
Makanan
yang mengandung racun misalnya: singkong, jengkol, tempe bongkrek, oncom,
makanan kaleng yang kadaluarsa.
3)
Baygon,
minyak tanah, zat pembunuh serangga lainnya.
4)
Makanan
atau minuman yang mengandung alkohol (bir, minuman keras)
5)
Perhatikan
sekitar penderita mungkin ditemukan petunjuk mengenai sebab keracunannya,
misalnya botol obat, pembungkus, sisa makanan, sisa muntahan.
b.
Melalui pernapasan.
1)
Menghirup
gas beracun/udara beracun (mis. gas mobil dalam kendaraan yang tertutup).
2)
Kebocoran
gas industri.
c.
Melalui kulit atau absorbsi
(kontak)
Zat
kimia/tanaman beracun yang terpapar melalui permukaan kulit dan dapat meresap
ke dalam kulit tersebut.
Keracunan ini
dapat juga terjadi akibat tersentuh binatang yang memiliki racun pada kulit
atau bagian tubuh lainnya.
d.
Melalui suntikan atau gigitan
1)
Gigitan
/ sengatan binatang berbisa (ular, kalajengking, dll.).
2)
Gigitan
binatang laut (ubur-abur, anemon, ketimun laut, gurita, tiram dll).
3)
Obat
suntik
4.
Gejala dan tanda keracunan secara umum
Gejala dan tanda
keracunan yang khas biasanya sesuai dengan jalur masuk racun ke dalam tubuh. Bila masuk melalui saluran pencernaan,
maka gangguan utama akan terjadi pada saluran pencernaan. Bila masuk melalui
jalan napas maka yang terganggu adalah pernapasannya dan bila melalui kulit
akan terjadi reaksi setempat lebih dahulu. Gejala lanjutan yang terjadi
biasanya sesuai dengan sifat zat racun tersebut terhadap tubuh.
Gejala dan tanda keracunan umum :
a.
Riwayat
yang berhubungan dengan proses keracunan
b.
Penurunan
respon
c.
Gangguan
pernapasan
d.
Nyeri
kepala, pusing, gangguan penglihatan
e.
Mual,
muntah, diare
f.
Lemas,
lumpuh, kesemutan
g.
Pucat
atau sianosis
h.
Kejang-kejang
i.
Gangguan
pada kulit
j.
Bekas
suntikan, gigitan, tusukan
k.
Syok
l.
Gangguan
irama jantung dan peredaran darah pada zat tertentu.
Penatalaksanaan keracunan secara umum :
a.
Pengamanan
sekitar, terutama bila berhubungan dengan gigitan binatang.
b.
Pengamanan
penderita dan penolong terutama bila berada di daerah dengan gas beracun.
c.
Keluarkan
penderita dari daerah berbahaya bila memungkinkan.
d.
Penilaian
dini, bila perlu lakukan RJP.
e.
Bila
racun masuk melalui jalur kontak, maka buka baju penderita dan bersihkan sisa
bahan beracun bila ada
f.
Bila
racun masuk melalui saluran cerna, uapayakan mengencerkan racun .
g.
Awasi
jalan napas, terutama bila respon menurun atau penderita muntah.
h.
Bila
keracunan terjadi secara kontak maka bilaslah daerah yang terkena dengan air.
i.
Bila
ada petunjuk seperti pembungkus, sisa muntahan dan sebagainya sebaiknya
diamankan untuk identifikasi.
j.
Penatalaksanaan
syok bila terjadi
k.
Pantaulah
tanda vital secara berkala.
l.
Bawa
ke fasilitas kesehatan
P. Incident Command System dan Triage
1. Incident Command System (ICS)
Di sini tidak akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ini karena bahasan
ini merupakan suatu topik pelatihan sendiri. Perlu diketahui oleh penolong
bahwa sistem ini sebenarnya sudah ada dan baku, pelaksanaannya tergantung dari
masing-masing daerah.
Di Indonesia ICS ini sering dikenal sebagai POSKO, yang tugas dasarnya
adalah mengatur penanggulangan korban banyak atau bencana. Bagaimana melakukan
pemilahan korban, bagaimana dan kemana korban di evakuasi, menggunakan apa,
siapa yang bertugas di mana, kemana dan semua hal lain yang berhubungan dengan
pengaturan di lokasi.
Secara umum pada penanggulangan korban banyak perlu di atur tempat
sedemikian rupa sehingga ada :
a.
Daerah
triage
Pada dasarnya daerah ini merupakan areal kejadian.
b.
Daerah
pertolongan
Setelah
pasien ditentukan triagenya maka dipindahkan ke daerah penampungan di mana
pertolongan diberikan.
c.
Daerah
transportasi
Pada
daerah ini berkumpul semua kendaraan yang akan digunakan untuk mengevakuasi
para korban, termasuk pencatatan data pengiriman korban.
d.
Daerah
penampungan penolong dan peralatan.
Pada daerah ini para penolong yang baru datang atau sudah bekerja berkumpul,
di data dan di atur pembagian kerjanya. Bila kejadiannya besar maka daerah
penampungan juga diperlukan untuk peralatan, barang-barang lainnya.
2. Peran Penolong Pertama
Sebagai penolong kita harus mengetahui sistem yang ada, terutama apa yang
harus dilakukan pada fase awal, pada dasarnya penolong harus :
a. Mendirikan Posko dan komandonya
b. Menilai keadaan
c. Meminta bantuan sesuai keperluan
d. Mulai melakukan triage
3. Penilaian keadaan
Setelah menentukan suatu kejadian sebagai kasus dengan korban banyak
maka hal yang paling penting dilakukan adalah menahan diri untuk tidak langsung
memberikan pertolongan kepada perorangan. Nilai hal-hal sebagai berikut :
a. Keadaan
b. Jumlah penderita
c. Tindakan khusus
d. Sumber daya yang kira-kira akan diperlukan
e. Hal lain yang dapat berdampak pada
situasi dan kondisi
f. Berapa banyak sektor yang diperlukan
g. Wilayah atau areal penampungan
Buat suatu laporan singkat, sehingga bantuan yang akan datang akan
sesuai dengan keperluan.
4. Triage
Triage berasal dari bahasa Perancis yang berarti pemilahan. Dalam dunia
medis istilah ini dipergunakan untuk tindakan pemilahan korban berdasarkan
prioritas pertolongan atau transportasinya.
Prinsip utama dari triage adalah menolong para penderita yang mengalami
cedera atau keadaan yang berat namun memiliki harapan hidup.
Salah satu metode yang paling sederhana dan umum digunakan adalah metode
S.T.A.R.T atau Simple Triage and Rapid Treatment.
Metode ini membagi penderita menjadi 4 kategori :
a.
Prioritas
1 – Merah
Merupakan prioritas utama, diberikan kepada para penderita yang kritis
keadaannya seperti gangguan jalan napas, gangguan pernapasan, perdarahan berat
atau perdarahan tidak terkontrol, penurunan status mental
b.
Prioritas
2 – Kuning
Merupakan prioritas berikutnya diberikan kepada para penderita yang
mengalami keadaan seperti luka bakar tanpa gangguan saluran napas atau
kerusakan alat gerak, patah tulang tertutup yang tidak dapat berjalan, cedera
punggung.
c.
Prioritas
3 – Hijau
Merupakan kelompok yang paling akhir prioritasnya, dikenal juga sebagai
‘Walking Wounded” atau orang cedera yang dapat berjalan sendiri.
d.
Prioritas
0 – Hitam
Diberikan kepada mereka yang meninggal atau mengalami cedera yang
mematikan.
Pelaksanaan triage dilakukan dengan memberikan tanda sesuai dengan warna
prioritas. Tanda triage dapat bervariasi mulai dari suatu kartu khusus sampai
hanya suatu ikatan dengan bahan yang warnanya sesuai dengan prioritasnya.
Jangan mengganti tanda triage yang sudah ditentukan. Bila keadaan penderita
berubah sebelum memperoleh perawatan maka label lama jangan dilepas tetapi
diberi tanda, waktu dan pasang yang baru.
Pelaksanaan Triage Metode S.T.A.R.T
Untuk memudahkan pelaksanaan triage maka dapat dilakukan suatu pemeriksaan
sebagai berikut :
a.
Kumpulkan
semua penderita yang dapat / mampu berjalan sendiri ke areal yang telah
ditentukan, dan beri mereka label HIJAU.
b.
Setelah
itu alihkan kepada penderita yang tersisa periksa :
c.
Pernapasan
:
1)
Bila
pernapasan lebih dari 30 kali / menit beri label MERAH.
2)
Bila
penderita tidak bernapas maka upayakan membuka jalan napas dan bersihkan jalan
napas satu kali, bila pernapasan spontan mulai maka beri label MERAH,
bila tidak beri HITAM.
3)
Bila
pernapasan kurang dari 30 kali /menit nilai waktu pengisian kapiler.
d.
Waktu
pengisian kapiler :
1)
Lebih
dari 2 detik berarti kurang baik, beri MERAH, hentikan
perdarahan besar bila ada.
2)
Bila
kurang dari 2 detik maka nilai status mentalnya.
3)
Bila
penerangan kurang maka periksa nadi radial penderita. Bila tidak ada maka ini
berarti bahwa tekanan darah penderita sudah rendah dan perfusi jaringan sudah
menurun.
e.
Pemeriksaan
status mental :
1)
Pemeriksaan
untuk mengikuti perintah-perintah sederhana
2)
Bila
penderita tidak mampu mengikuti suatu perintah sederhana maka beri MERAH.
3)
Bila
mampu beri KUNING.
Setelah
memberikan label kepada penderita maka tugas anda berakhir segera lanjutkan ke penderita berikut.
Klasifikasi
|
YA
|
TIDAK
|
keterangan
|
Penderita
dapat berjalan?
|
|||
Penderita
bernapas ?
|
|||
Penderita
bernapas setelah
jalan napas
dibuka
|
|||
Frekuensi
pernapasan (2 detik)
|
|||
Waktu
pengisian kapiler < 30 x
|
|||
Status
mental perintah sederhana?
|
good
BalasHapus