Sabtu, 30 Agustus 2014

PERATURAN BARIS BERBARIS



 PERATURAN 
  1. BARIS BERBARIS (PBB)
PBB-TNI AKMIL, Naskah Sekolah Sementara Tentang Peraturan Baris – Berbaris Surat  Keputusan Dan Kodiklat TNI AD, Nomor : Kep/316/X/2010
Keluaran  18 : 21
Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.
A.      Acuan
PBB-TNI AKMIL, Naskah Sekolah Sementara Tentang Peraturan Baris – Berbaris Surat  Keputusan Dan Kodiklat TNI AD, Nomor : Kep/316/X/2010
B.      Tujuan
Agar peserta individu mengerti dan dapat melaksanakan Peraturan Baris Berbaris sesuai dengan ketentuan.
C.      Penjelasan tentang Materi
suatu wujud latihan ketanBaris-berbaris gkasan yang diperlukan untuk menanamkan kedisiplinan dalam kehidupan individu yang diarahkan pada terbentuknya suatu sikap dan perwatakan tertentu. sebagai
Pengetahuan dan ketangkasan baris berbaris merupakan bekal dasar yang harus dimiliki setiap  peserta individu  sehingga mempunyai disiplin dan rasa percaya diri yang tinggi.
Seorang pelatih/komandan/pimpinan harus benar-benar memiliki pengetahuan dan ketangkasan PBB secara mendalam agar ia mampu membekali dan melatih segenap anggotanya dalam rangka mewujudkan bentuk sikap dan disiplin MGR serta mewujudkan jiwa korsa yang handal dalam satuannya.
D.      Pengertian
Pengertian :  Baris berbaris adalah suatu ujud latihan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
Maksud dan tujuan : Untuk menumbuhkan sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa persatuan dan disiplin sehingga selalu dapat mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan pribadi  disamping juga menanamkan rasa tanggung jawab.
Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas.

Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.

E.       Aba-aba

a.       Pengertian
        Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang              dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.

b.      Macam aba-aba

Ada tiga macam aba-aba yaitu :

1)  Aba-aba petunjuk
     Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-       aba peringatan/pelaksanaan.

     Contoh:
      a)   Kepada Pemimpin Upacara - Hormat - GERAK
      b)   Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK

2)  Aba-aba peringatan
     Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa         ragu-ragu

      Contoh:
      a)  Lencang kanan            - GERAK
      b)  Istirahat di tempat       - GERAK

3)  Aba-aba pelaksanaan
     mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba petunjuk/peringatan dengan cara serentak             atau berturut-turut.
      Aba-aba pelaksanakan yang digunakan adalah
      a)      GERAK
      b)      JALAN
      c)      MULAI

1.       CARA MELATIH BERHIMPUN

Formasi Berhimpun, bentuknya mengikat, jumlah saf tidak mengikat
Pada dasarnya berkumpul selalu dilakukan dengan bersaf, kecuali jika keadaan ruang tidak memungkinkan.

Aba-aba :  “Bersaf,  kumpul … MULAI!”
Pelaksanaan:

1) Komandan/pelatih menunjuk seorang anggota untuk berdiri kurang lebih 4 langkah didepannya, sebagai penjuru. Perintahnya sebagai berikut, misal: “Robert sebagai penjuru!”
2)    Anggota yang ditunjuk sebagai penjuru mengambil sikap sempurna dan menghadap penuh kepada pemberi perintah, selanjutnya mengulangi perintah sbb : “Siap, “Robert sebagai penjuru”.
3)   Penjuru mengambil sikap untuk berlari kemudian berlari menuju pemberi perintah.
4)  Pada waktu aba-aba bersaf/ berbanjar kumpul, maka seluruh anggota lainnya mengambil sikap sempurna dan menghadap penuh pada pemberi aba-aba.
5)   Pada aba-aba pelaksanaan: “MULAI”, anggota lainnya dengan serentak mengambil sikap lari dan berlari menuju disamping kiri/belakang penjuru secara berturut-turut. Selanjutnya penjuru memberi isyarat: “LURUSKAN”, anggota secara berturut-turut meluruskan diri.
6)   Cara meluruskan diri ke samping (jika bersaf) sbb: Meluruskan lengan kanan ke samping kanan dengan tangan digenggam disentuhkan bahu kiri orang di sebelah kanannya, punggung tangan menghadap ke atas. Kepala dipalingkan ke kanan dan meluruskan diri, hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah kanannya. Penjuru yang ditunjuk pada waktu berkumpul melihat ke kiri, setelah barisan terlihat lurus maka penjuru memberikan isyarat dengan mengucapkan: “LURUS”, lengan diturunkan serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan.
7)   Cara meluruskan diri ke depan (jika berbanjar) sbb: Meluruskan lengan kanannya ke depan dengan tangan digenggam, punggung tangan menghadap ke atas dan mengambil jarak satu lengan ditambah dua kepal dari orang yang ada di depannya serta meluruskan diri ke depan. Setelah orang yang paling belakang/banjar kanan yang paling belakang melihat barisannya sudah lurus maka ia memberikan isyarat dengan mengucapkan: “LURUS”. Pada isyarat ini serentak menurunkan lengan kanan dan kembali ke sikap sempurna.

2.       MELATIH MENINGGALKAN BARISAN
        Apabila pelatih/komandan memberikan perintah kepada seseorang dari barisannya,                terlebih dahulu ia memanggil orang itu keluar barisan dan memberikan perintahnya setelah        orang itu telah berdiri dalam keadaan sikap sempurna. Orang yang menerima perintah ini          harus mengulangi perintah tersebut sebelum melaksanakan perintah itu dengan semangat.

Tata cara keluar barisan

Bila pasukan bersaf

1) Untuk saf depan, tidak perlu balik kanan tetapi langsung menuju ke arah yang memanggil.
2)  Untuk saf tengah dan belakang, balik kanan kemudian melalui belakang saf paling belakang, selanjutnya memilih jalan terdekat menuju arah pemanggil.
3)  Untuk orang yang berada di ujung kanan atau kiri tanpa balik kanan langsung menuju arah yang memanggil (termasuk saf  tengah: 2, 3, …).

Penjuru pada saf bukan paling depan mengambil antara ke depan  dan setelah lurus menurunkan lengan. Setelah masing-masing dirinya berdiri lurus dalam barisan, maka semua berdiri di tempatnya dengan memalingkan muka ke arah penjuru.

Pada aba-aba: “Tegak …GERAK!”, semua anggota menurunkan lengan dengan serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan, sikap sempurna.

3.       SETENGAH LENGAN LENCANG KANAN/KIRI
Aba-aba:
Setengah lengan, lencang kanan/kiri … GERAK!”.

Pelaksanaan: seperti lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang dengan siku menyentuh lengan orang di sebelah kanan/kirinya, pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang, keempat jari lainnya rapat di sebelah depan.

4.       LENCANG DEPAN
Hanya dalam bentuk berbanjar,
aba-aba: “Lencang depan … GERAK!”.
Pelaksanaan:
penjuru tetap sikap sempurna, orang ke-dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat lengan. Bila lebih dari satu banjar, maka saf terdepan mengambil antara satu setengah lengan di samping kanan, setelah lurus menurunkan lengan serta menegakkan kepala kembali dengan serempak.


5.       CARA BERHITUNG
          Aba-aba: “Hitung … MULAI!”.
        Pelaksanaan: jika bersaf, maka pada aba-aba peringatan, penjuru tetap melihat ke depan         sedangkan anggota lainnya pada saf depan memalingkan muka ke kanan. Pada aba-aba         pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota mulai dari penjuru kanan menyebut nomornya                 sambil memalingkan muka kembali ke depan.
       Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua tetap pada sikap sempurna.pada aba-            aba pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru depan ke belakang menyebut nomornya          masing-masing. Penyebutan nomor diucapkan penuh.

6.       Periksa kerapihan
         Aba – Aba : Periksa kerapihan = Mulai
        Pelaksanaan : dimaksudkan untuk merapihkan perlengkapan yang dipakai pada saat itu            dan pasukan dalam keadaan istirahat.
a.   Pada saat aba-aba peringatan pasukan mengambil sikap sempurna  “SIAP”
b.   Aba-aba pelaksanaan membungkukkan badan masing-masing, melai memeriksa atau membetulkan perlengkapannya dari ujung kaki sampai tutup kepala.
c.  Setelah yakin sudah rapi masing-masing anggota mengambil sikap sempurna, sambil mengucapkan  “SIAP”
d. Setelah komandan melihat pasukan sudah selesai maka memberi aba-aba = “SELESAI” dan pasukan mengambil sikap istirahat


PERUBAHAN ARAH
7.       Hadap kanan/kiri
         Aba-aba: “Hadap kanan/kiri … GERAK!”.
        Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan melintang didepan kaki kanan/kiri, lekuk kaki                   kiri/kanan beradadi ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit          kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°.

        Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°. Kaki kiri/kanan dirapatkan            kembali ke kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.

8.       Hadap serong kanan/kiri
         Aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri … GERAK!”.

        Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan ke depan sejajar kaki kanan/kiri. Tumit kaki                       kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 45°. Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali                ke kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.

9.       Balik kanan
        Aba-aba: “Balik kanan … GERAK!”.

       Pelaksanaan: kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam) didepan kaki kanan, berat badan           berpindah ke kaki kiri. Tumit kaki kanan dengan badan diputar ke kanan 180°. Kaki kiri              dirapatkan kembali ke kaki kanan seperti posisi sikap sempurna.


MEMBUKA/MENUTUP BARISAN

10.   Buka barisan
        Aba-aba: “Buka barisan … JALAN!”
        Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing-masing membuat          langkah ke samping kanan dan kiri satu langkah. Banjar tengah tetap di tempat.

11.   Tutup barisan
        Aba-aba : “Tutup barisan … JALAN!”.
       Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing-masing membuat         langkah ke samping kiri dan kanan satu langkah, kembali ke posisi semula. Banjar tengah          tetap di tempat.

12.   BUBAR
        Aba-aba : “Bubar …JALAN!”.
       Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan setiap anggota menyampaikan penghormatan        kepada pelatih/komandan, setelah dibalas kembali ke sikap sempurna, melakukan gerakan ‘    balik kanan’ dan pada hitungan tertentu (dalam hati) melakukan gerakan seperti langkah            pertama dalam gerakan ‘maju … jalan’, selanjutnya bubar menuju ke tempat masing-                  masing.
     Bila pelatih/komandan menghendaki tidak ada penghormatan, aba-aba didahului dengan         aba-aba-aba petunjuk: “Tanpa penghormatan, bubar … JALAN!”. Pasukan langsung balik          kanan tanpa memberikan penghormatan dahulu, dst.

13.   MAJU JALAN
Dari sikap sempurna, aba-aba : “Maju … JALAN!”
Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan ke depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi + 20 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan jarak satu langkah, dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa.
Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri ke belakang 30° dengan tangan menggenggam.

14.   LANGKAH TEGAP
Dari sikap sempurna, aba-aba: “Langkah tegap, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: mulai berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama tidak berlebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki diangkat tidak terlalu tinggi. Bersamaan dengan langkah pertama, tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke samping luar, ibu jari tangan menghadap ke atas. Lenggang lengan ke depan 90° dan ke belakang 30°.
Ketika sedang berjalan ‘langkah tegap’ kembali ke langkah biasa.
Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!”
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan sewaktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah ditambah satu langkah, langkah pertama dihentakkan dan mulai berjalan dengan langkah biasa.


15.   LANGKAH SEWAKTU LARI
Dari sikap sempurna.
Aba-aba: “Lari, maju … JALAN!”.
Pelaksanaan: pada aba-aba peringatan, kedua tangan dikepalkan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan.
Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiri satu langkah dan selanjutnya lari dengan panjang langkah 80 cm, tempo 165 langkah/menit. Kaki diangkat secukupnya, telapak kaki diletakkan mengenai tanah pada ujungnya terlebih dahulu, lengan dilenggangkan lemas.
Dari langkah biasa, aba-aba: “Lari … JALAN!”.
Pada aba-aba peringatan, gerakan sama dengan poin a, aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditambah satu langkah, dst.
Kembali ke langkah biasa,
Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!”.
Aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri jatuh di tanah ditambah tiga langkah, kemudian berjalandengan langkah biasa dimulai dengan kaki kiri yang dihentakkan disertai dengan lenggangan tangan.

16.   Langkah Merdeka
Aba-aba : Langkah merdeka = Jalan
Pelaksanaan:
Anggota berjalan bebas tanpa terikat panjang dan tempo atas pertimbangan komandan anggota dapat diizinkan melakukan sesuatu karena kondisi medan yang tidak memungkinkan tetapi masih dalam kelompok barisan dan tidak terpencar semuanya (antara lain : berbicara, buka topi dan menghapus keringat)
Catatan :
Langkah merdeka biasanya dilakukan untuk menempuh perjalanan jauh/ diluar kota / lapangan yang tidak rata. Anggota dilarang meninggalkan barisan.

17.   Jalan di Tempat
aba-aba: “Jalan di Tempat = Grak!”.
Pelaksanaan :
Gerakan di mulai dengan kaki kiri, lutut berganti-ganti di angkat sehingga paha rata-rata (horisontal)ujung kaki menuju kebawah dan tempo langkah sesuai dengan tempo langkah biasa. Badan tegak pandangan mata tetap kedepan, lengan tetap lurus dirapatkan pada badan (tidak di lenggangkan).


18.   Belok Kanan/kiri
Aba-aba : Belok Kanan/kiri maju = Jalan
Pelaksanaan : penjuru depan merubah arah 90 derajat kekanan atau kekiri dan mulai berjalan kearah tertentu prajurut lainnya mengikuti gerakan-gerakan ini setibanya pada belokan tersebut ( tempat penjuru berbelok )
Catatan :
Aba-aba : Dua Kali Belok Kanan /Kiri Maju = Jalan
          dan Tiaptiap Banjar Dua Kali Belok Kanan/kiri Maju =      Jalan

19.   Haluan Kanan/Kiri
Gerakan ini hanya dilakukan dalam bentuk ber saf, guna merubah arah tanpa merubah bentuk
Pelaksanaan

  1. Berhenti ke berhenti
     Aba-aba : Haluan kanan/kiri = jalan
Setelah aba-aba penjuru kanan/kiri berjalan di tempat dengan memutar arah secara perlahan laha-lahan hingga merubah arah sebesar 90 derajat, bersamaan dengan itu masing-masing saf mulai maju jalan dengan rapi sambil meluruskan safnya hingga merubah arah sebesar 90 derajat, kemudian berjalan di tempat, setelah penjuru kanan melihat safnya lurus memberi isyarai “LURUS” kemudian komandan memberi aba-aba “HENTI=GRAK”

b.   Berhenti ke berjalan
                Aba-aba : Haluan kanan/kiri = jalan
Pelaksanaan : seperti aba aba haluan kanan kiri setelah isyarat luru dari penjuru komandan langsung memberi aba-aba “MAJU JALAN” tanpa berhebti terlebih dahulu.

c.  Berjalan ke berhenti
    Aba-aba : Haluan kanan/kiri maju = jalan
   pelaksanaan aba-aba dijatuhkan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah. selanjutnya barisan melakukan gerakan seperti haluan kanan/kiri dari berherhenti ke berhenti.

d.  Berjalan ke berjalan
    Aba-aba : Haluan kanan/kiri maju = jalan
   pelaksanaan aba-aba dijatuhkan pada waktu kaki kanan/kiri jatuh di tanah, kemudian ditambah satu langkah.selanjutnya barisan melakukan gerakan seperti haluan kanan/kiri dari berhenti ke berjalan.
Catan :
Pada pelaksanaan haluan, lengan tidak melenggang.

20.   Melintang kanan/kiri gerakan ini dilakukan dalam bentuk berbanjar, guna merubah bentuk pasukan dengan arah tetap.
  1. Berhenti ke berhenti
     Aba-aba : Melintang Kanan/kiri Maju jalan
    Pelaksanaan : setelah aba-aba pelaksanaan melakukan gerakan hadap kanan/kiri kemudian haluan kiri/kanan dan berhenti keberhenti kemudian setelah diberi aba-aba “MAJU = JALAN” baru maju jalan.

  1. Berhenti ke berjalan
     aba-aba : Melintang Kanan/kiri Maju jalan
 Pelaksanaan : setelah aba-aba pelaksanaan melakukan gerakan hadap kanan/kiri  kemudian haluan kiri/kanan dan berhenti keberhenti kemudian setelah diberi aba-aba “MAJU = JALAN”baru maju jalan. Setelah aba-aba pelaksanaan ditambah satu langkah, barisan maju dengan langkah biasa.

c.   Berjalan ke Berjalan
     aba-aba : Melintang Kanan/kiri Maju jalan Pelaksanaan : Setelah aba-aba pelaksanaan ditambah satu langkah, barisan melakukan gerakan seperti gerakan melintang kanan/kiri dari berhenti ke berjalan.

  
BARIS BERBARIS TINGKAT KOMPI
Umum. Baris berbaris kompi adalah dimaksudkan untuk melatih dan memelihara gerakan yang sesuai dengan peraturan mengenai bentuk-bentuk gerakan dan perubahan-perubahan yang dilakukan pada waktu baris berbaris, Upacara/Parade, pemindahan pasukan setingkat kompi dengan berjalan kaki.

Ø  Susunan Pasukan
  1. Kompi terdiri atas 3 Pleton, satu Pleton terdiri dari 30 0rang ditambah satu komandan pleton, dan satu regu terdiri dari 10 orang.
  2. b. Dalam latihan baris-berbaris kompi, komandan kompi menempatkan diri ditempat dimana ia dapat memimpin dan mengawasi dengan baik.
  3. c.  Khusus untuk satuan tingkat kompi yang melakukan pemindahan berjalan kaki/ baris – berbaris yang mengunakan jalan umum komandan kompi menempatkan diri ditempat dimana ia dapat memimpin dan mengawasi dengan baik, tetapi tidak berada disamping komandan pleton.
RANGKUMAN
                Baris berbaris adalah suatu ujud latihan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.


  1. Aba-aba ada 3 macam
  1. Petunjuk : Contoh kepada pemimpin  ..., Masing-masing banjar...
  2. Aba-aba peringatan :  contoh maju, jalan ditempat, hormat.
  3. Aba-aba pelaksanaan
                Ada 3 : a. Gerak : untuk gerakan kaki tanpa meninggalkan tempat dan untuk gerakan anggota tubuh yang lain.  b. Jalan  : untuk gerakan kaki dengan meninggalkan tempat
c. Mulai : adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
Macam –macam gerakan dengan aba-aba Gerak
Siap = GERAK
Henti = GERAK
Istirahat di tempat = GERAK
Tegak = GERAK
Hadap Kanan/kiri = GERAK
Hormat = GERAK
Hadap serong Kanan/kiri = GERAK
Hormat Kanan/Kiri = GERAK
Balik kanan = GERAK
Letak tongkat = GERAK
Lencangkanan/kiri = GERAK
Pundak kiri tongkat = GERAK
Lencang depan = GERAK
Depan tongkat = GERAK
Setengah lengan lencang kanan/kiri = GERAK
Ambil Tongkat = GERAK
Jalan di tempat = GERAK
Tegak Tongkat = GERAK


Macam –macam gerakan dengan aba-aba Jalan (dari posisi diam)
Maju = JALAN
Hadap serong kanan/kiri maju = JALAN
(1-4)... Langkah ke Kanan/Kiri= JALAN
Haluan Kanan/kiri maju = JALAN
(1-4) ... Langkah Kebelakang/Depan = JALAN
Dua kali belok kanan maju = JALAN
Langkah Tegap/Bias Maju = JALAN
Tiap –tiap banjar Dua kali belok kanan maju = JALAN
Lari Maju = JALAN
Belok Kanan/Kiri maju = JALAN
Buka/tutup Barisan = JALAN
Melintang Kanan/Kiri maju = JALAN
Haluan Kanan/Kiri = JALAN
Hadap kanan/kiri maju = JALAN
Bubar = JALAN
Balik kanan maju = JALAN

Buka/tutup Barisan = JALAN
Hormat Kanan/kiri = GERAK
Belok Kanan/Kiri = JALAN
Tegak = GERAK
(1-4)... Langkah ke Kanan/Kiri= JALAN
Henti = GERAK
Hadap Kanan/Kiri Maju = JALAN
Hadap Kanan/Kiri Henti = Gerak
Hadap Serong Kanan/Kiri Maju = JALAN
Hadap Serong Kanan/Kiri Henti = Gerak
Balik Kanan Maju = JALAN
Balik Kanan Henti = Gerak
Langkah tegap = Jalan
Jalan di tempat = GERAK
Langkah Biasa = Jalan